Nanotechnology untuk Selamatkan Korban Bencana

Nanotechnology untuk Selamatkan Korban Bencana

foto:humas unair

Aplikasi Nanotechnology pada Survival Food guna meningkatkan ketahanan hidup korban bencana diciptakan Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

“Gagasan penelitian itu kami disusun ke dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksata (PKM-PE) dan berhasil lolos seleksi pendanaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan tahun 2018-2019,” kata Ketua Ningsih Putri Herman, Selasa (25/6/2019).

Aplikasi tersebut diciptakan bersama Melly Octaviany yang berkolaborasi dengan mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Tya Wahyun Kurniawati dan di bawah bimbingan Nita Citraari S.Si M.T.

Penelitian itu tercetus dari adanya korban yang berhasil dievakuasi dalam kondisi bernyawa setelah lebih dari tiga hari karena meminum urinenya sendiri.

“Hal memprihatinkan tersebut membuat tim merasa harus ada suatu makanan yang mudah dibawa dan mampu meningkatkan ketahanan hidup korban bencana,” terangnya.

Ningsih juga mengatakan bahwa aplikasi Nanotechnology pada Survival Food tersebut berupa nanofiber yang disintesis dari Sodium Alginat dan PVA menggunakan metode Electrospinning.

Nanofiber pada Survival Food itu, imbuh dia, berperan sebagai serat tambahan sehingga dapat meningkatkan kekenyangan serta daya serap makanan dalam tubuh.

Survival Food pada penelitian ini terdiri dari makanan yang mengandung banyak kalori seperti sagu, cokelat, dan madu,” tuturnya.

Menambahkan pernyataan Ningsih, Tya anggota penelitian yang lain mengatakan bahwa, alasan memilih bahan utama tersebut dikarenakan zat gizi yang tinggi dan juga adanya kandungan khusus yang diperlukan oleh korban bencana.

Survival Food ini diharapkan dapat menekan angka kematian dengan cara mencukupi dan mengatur asupan energi, meningkatkan rasa kenyang, mengurangi kecemasan atau trauma, dan meningkatkan kekebalan tubuh pada korban bencana alam dalam jangka waktu yang lama,” ucapnya. (ant/wh)