Musibah Terbakarnya Mobil Sapu Angin, ITS Tidak Ingin Berspekulasi

Musibah Terbakarnya Mobil Sapu Angin, ITS Tidak Ingin Berspekulasi

foto:humas ITS

Berbagai dugaan muncul menyusul musiba terbakarnya mobil Sapu Angin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu (28/6) pagi, di arena ajang EcoShell Marathon Challenge Divers World Championship (DWC) di London.

“Semuanya masih dugaan-dugaan. Nanti tim investigasi yang akan mendalami semuanya. Ada banyak dugaan mulai kemungkinan terjadinya gesekan material mobil dengan baterai pada saat perjalanan hingga kesalahan dalam penempatan material di dalam peti kemas,” kata Ketua Jurusan Teknik Mesin ITS, Ir Bambang Pramujati., M.Sc.Eng., Ph.D.

Bambang tidak ingin berspekulasi terhadap berbagai dugaan itu, karena semuanya harus dilakukan pendalaman dan baru bisa disimpulkan.

Sumber yang tidak mau disebutkan jatidirinya memberikan analisisnya, kemungkinan besar akibat adanya gesekan material mobil dengan sumber api, sehingga menyebabkan percikan api dan terbakarnya mobil tersebut. “Mudah-mudahan dalam pengiriman ini diasuransikan sehingga tim ITS tidak terlalu kecewa karena memperoleh ganti rugi untuk membangun kembali Sapu Angin yang lebih handal,” kata sumber itu.

Dari London, dosen pembimbing Ir. Witantyo M.Eng.Sc., yang mendampingi tujuh mahasiswa anggota tim menjelaskan, ia menerima kabar dari pihak pengirim jika boks atau peti kemas yang berisi mobil dan perlengkapan tim Sapu Angin ITS terbakar saat anggota tim masih transit di Goha, Qatar dalam perjalanan menuju London.

“Kami hanya merima kabar peti kemas itu terbakar saat pengiriman dari gudang di London menuju lokasi lomba. Pada saat akan diturunkan itulah terlihat asap dari boks atau peti kemas,” katanya.

Dijelaskan Witantyo, boks yang terbuat dari logam itu menyebabkan api terlokalisir di dalam boks sehingga api tidak menyebar, tapi menghanguskan hamper seluruh isi boks.

“Penyebab kejadian masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Kami tidak bisa berspekulasi sebelum ada keterangan resmi dari pihak pengangkut. Yang jelas memang mobil dan perlengkapannya kami berangkatkan lebih awal melalui jasa pengiriman udara,” katanya.

Adakah kemungkinan disebabkan karena baterai yang bergesekan atau bertumbukan dengan logam dan peralatan mobil lainnya? Witantyo tidak bisa menjelaskan, karena sepengetahuannya baterai yang ada juga tidak tersambung dengan kabel atau rangkaian yang ada pada mobil, melainkan sudah dicopot satu per satu.

Saat pengiriman Witantyo menjelaskan, semua sudah dipersiapkan dengan matang. Lalu diserahkan ke jasa cargo pengiriman udara. Pihak bea cukai di London juga menjelaskan jika pihaknya tidak melakukan pemeriksaan dan pembongkaran karena sudah ada stiker pemeriksaan yang menempel pada boks dari pihak pengirim di Indonesia.

Berkembang isu adanya sabosatse mengingat saat di arena serupa di Filipina, ketangguhan dan kehebatan mobil Sapu Angin ITS sempat membuat decak kagum tim juri dari Eropa, karena capaian tim ITS melebihi rekor kejuaraan serupa di Eropa.
Jajaran pimpinan ITS, antara lain Rektor dan Kajur Teknik Mesin menepis dugaan adanya sabotase dalam musibah itu. “Kami tidak ingin berspekulasi, kami akan tunggu hasil pemeriksaan di sana dan kami juga akan menginvestigasi.

“Kami akan melakukan investigasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Investigasi dimulai sejak dalam persiapan untuk dimasukkan ke dalam peti kemas, pengiriman melalui jasa cargo udara, penurunan di tempat tujuan hingga pengangkutan ke arena lomba,” kata Ir Bambang Pramujati., M.Sc.Eng., Ph.D.

Witantyo juga menambhakan, di ajang lomba ini yang dinilai berbeda dengan saat lomba di Filipina. “Di ajang lomba kali ini yang dinilai adalah kecepatan dengan konsumsi BBM 90 persen dari hasil lomba di tingkat Asia, jadi tidak lagi lomba irit-iritan bahan bakar,” katanya.

Rektor ITS menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan ini.

“Sesungguhnya segala sesuatu yang berasal dari Allah akan kembali kepada Nya. Selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Semoga hal ini tetap menyalakan semangat para mahasiswa dan kita semua tetap bersabar dan bersyukur,” kata Joni. (wh)