Motivasi Sesaat

motivasi sesaat

motivasi sesaat

*Suwandono (mr.swand @yahoo.co.id)

Fee motivator itu sekitar Rp. 150.000.000 untuk seminar beberapa jam saja,“ ucap seorang kolega mengisahkan acara seminar motivasi yang ia ikuti beberapa waktu lalu.

Saya tak terkejut dengan jumlah itu karena sang motivator adalah tokoh populer yang tiap minggu nongol di Televisi. Selain bayaran selangit, detail akomodasi yang disyaratkan pun harus berkelas premium. Semua biaya dan fasilitas wah itu tentu bermuara pada para peserta seminar, harga ticketnya menjadi sangat mahal. Kesimpulan dari kasus ini adalah banyak orang rela membayar mahal untuk sekedar memperoleh motivasi diri.

Apakah seminar mahal itu benar-benar mujarab memompa motivasi? Kolega saya mengaku bila motivasi yang ia peroleh hanyalah motivasi sesaat. Ia merasa amat termotivasi ketika acara seminar berlangsung dan beberapa hari sesudahnya. Sejalan bergulirnya waktu, motivasi itu pun mengendur.

Saya pun pernah mengalami hal serupa. Ketika membaca buku motivasi, semangat saya meletup-letup. Beberapa hari kemudian, hilang lagi motivasinya. Jika tulisan-tulisan saya ini bertema motivasi, saya juga khawatir jika motivasi yang diperoleh para pembaca hanya motivasi sesaat. Yang lebih parah lagi jika motivasi itu hanya muncul saat membaca tulisan saya. Selesai membaca, selesai juga motivasinya (semoga tidak demikian adanya).

Lantas, bagaimana caranya agar motivasi itu konsisten? Ada dua kisah yang ingin saya bagi untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama, saya pernah mencuri dengar obrolan para pekerja di proyek perumahan yang saya kembangkan. Mereka amat antusias membahas angka Togel (toto gelap). Meski lebih sering kalah, ternyata mereka tak jera mengeluarkan uang untuk membeli togel. Bahkan, berani mengambil resiko berhadapan dengan sangsi hukum jika kebetulan “apes”.

Apa yang membuat mereka konsisten atau tak jera membeli? Karena ada harapan yang disuguhkan angka keberuntungan itu. Harapan memperoleh hadiah besar yang membuat mereka tetap bertahan atau termotivasi menjadi pembeli. Hanya saja, dalam kasus ini harapan itu diperoleh melalui cara yang salah. Bertentangan dengan rambu-rambu hukum, sosial dan agama.

Kisah lain adalah testimoni dari korban kapal ferry yang tenggelam beberapa tahun lalu. Setelah terapung tak tentu arah, di atas papan kayu ada dua laki-laki dewasa tengah berjuang mempertahankan nyawa. Selama 48 jam, dua lelaki itu saling membantu dan menguatkan. Namun di hari ketiga, papan kayu itu tinggal berisi satu orang. Seorang diantaranya menyerah meneruskan hidup setelah melihat mayat anaknya terapung di lautan luas.

“Seandainya tak melihat mayat anaknya terapung, pasti ia masih terus berjuang hidup karena mempunyai harapan berkumpul dengan anaknya lagi. Ia mati karena kehilangan harapan,” ucap laki-laki yang akhirnya berhasil selamat.

Dua kisah itu membawa pesan bahwa harapan atau impian adalah sumber motivasi yang luar biasa. Selama kita masih memilikinya, kita bisa selalu termotivasi.

Pada dasarnya, orang termotivasi karena dua hal: mengejar suatu tujuan dan menghindari penderitaan. Dua hal yang sebenarnya menjadi reflek psikologis semua orang. Berarti bisa disimpulkan bahwa setiap orang bisa memotivasi dirinya sendiri jika telah berhasil menemukan harapan atau impian hidup, serta mengidentifikasi penderitaan yang ingin dihindari.

Dengan kata lain, motivasi itu bisa diperoleh gratis. Tak harus mengeluarkan biaya mahal seperti yang dilakukan kolega saya. Cara yang ditempuh kolega itu tidaklah salah, bahkan amat bagus. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan macam itu.

Oleh karenanya, kita harus segera mencari dan menentukan jenis harapan atau impian itu. Seyogianya tujuan dan harapan itu spesifik atau detail, sehingga cara-cara untuk mewujudkannya juga menjadi lebih jelas. Sah-sah saja menentukan tujuan yang tidak spesifik atau terlalu umum, asalkan diikuti langkah-langkah nyata untuk pencapaiannya.

Sebagai pengusaha, terkadang saya terserang virus malas dan hanya mengerjakan rutinitas bisnis yang begitu-begitu saja. Saya yakin, Anda juga pernah mengalami hal serupa.

Yang berprofesi pegawai hanya menjalani rutinitas ngantor sebagaimana biasanya, yang memiliki usaha toko juga menghabiskan waktu dengan hal yang sama dari hari ke hari. Dalam keadaan yang demikian, jenuh dan lelah pasti mudah menyerang. Produktivitas pun turun.

Keadaan menjadi berbeda ketika saya memiliki harapan besar yang tumbuh dari suatu gagasan bisnis baru. Semangat saya berapi-api, jenuh dan lelah pun lenyap seketika.

Selama proses merealisasikan gagasan itu, fighting spirit saya menggila. Perkara harapan besar itu nantinya bisa terwujud atau tidak, adalah masalah lain karena tentu terkait dengan banyak faktor. Yang jelas, saya telah memperoleh motivasi baru dan tidak sekedar menghabiskan umur dengan kejenuhan.

Saya yakin, Anda pun pernah mengalaminya. Tiba-tiba bersemangat karena ada gagasan dan harapan baru. Oleh karenanya, seyogianya kita harus berusaha menemukan harapan dan impian baru dalam hidup kita. Setelah menemukannya, segera ditindaklanjuti dengan tindakan nyata untuk mewujudkannya. Jika hanya sekadar impian, sama saja dengan anak kecil yang bermimpi bisa menjadi spiderman atau superman.

Motivasi dari orang lain hanya akan menjadi motivasi sesaat jika kita sendiri tidak memiliki harapan atau impian. Buku-buku motivasi dan juga tulisan ini hanya akan menjadi sekedar motivasi yang tak berarti, sekedar cerita motivasi tanpa memiliki efek apa pun jika tidak segera diikuti tindakan nyata. (*)

*Pengusaha properti dan penulis novel