Modernisasi Alutsista Habiskan Rp 122 T

Modernisasi Alutsista Habiskan Rp 122 T
TNI Pamer alutsista modern yang memperkuat pertahanan negara.

Upaya Pemerintah Indonesia untuk menguatkan alutsista pertahanan negara harus dibayar mahal. Pasalnya, dalam kurun waktu empat tahun saja, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) harus menghabiskan Rp 122 triliun untuk modernisasi alutsista perang.

“Proses pengadaan alutsista tersebut menggunakan pendekatan bottom up dengan mengutamakan kepentingan operasional satuan pengguna mulai dari TNI AD, AU, dan TNI Angkatan Laut,” terang Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro dalam siaran pers di Komando Armada Timur (Koarmatim) Surabaya, Selasa (7/10/2014).

Menurut Purnomo alutsista tersebut diadakan selama Renstra I 2010 hingga 2014 anggaran dari APBN. Dari total anggaran tersebut, sebanyak Rp 19 triliun digunakan untuk industri pertahanan dalam negeri.

“Kami mengutamakan prinsip akuntabilitas dari proses perencanaannya hingga pengadaan alutsista,” akunya.

Proses bottom up dimaksukan oleh Purnomo yakni perencanaan yang berdasarkan kajian teknis dan tatis oleh jajaran TNI. Termasuk di antaranya mempertimbangkan kondisi geografis, postur prajurit, dan kesesuaian doktrin TNI.

“Pengadaan ini melibatan Mabes TNI, Bappenas, Kementerian Keuangan, dan Kemenhan. Termasuk disetujuinya di tingkat legislatif,” bebernya.

parade-hut-tni   pesawat-tempur-hut-tni

Dalam empat tahun tersebut TNI menyebutkan telah membeli sedikitnya 500 alutsista dengan menyesuaikan kebutuhan modernisasi masing-masing matra TNI. “Ke depan kita akan mendatangkan 24 alutsista lagi,” ujarnya.

Purnomo juga menambahkan, Pemerintah Indonesia saat ini telah berupaya untuk mengedepankan potensi alutsista hasil karya anak negeri. Sementara ini hasil produksi PT Pindad yang digunakan TNI yakni Panser Anoa, Heli Serbu Bell 412EP dan Rantis tiga per empat ton.

Selain itu ada Pesawat CN-235 MPA, Kapal KCR Type 40, Kapal KCR Type 60, Kapal Angkut Tank, Kapal Landing Craft Ultility (LCU), Kapal LCVP, Kapal Patroli, Truck 2,5 ton, combat boat, sea raiderm dan kapal bantu minyak cair (BCM), pesawat Cn-295, pesawat NAS-332 tactical transport, pesawat C-212-200, Helikopter NAS-332, Pesawat Tanpa Awak (UAV) Wulung, serta Tank AMX-13/Retrofit.

Purnomo juga menekankan bahwa semua pengadaan baik melalui impor maupun alutsista buatan dalam negeri dilakukan dengan transparan. Ini lantaran pengawasan dilakukan secara ketat dari internal maupun eksternal.

“Kami ada High Level Committe (HLC) dan tim konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang dan Jasa (TKP3B) yang meliputi BPKP, LKPP, Itjen Kemenhan, dan Mabes TNI,” tambahnya.

Selain itu, Kemenhan juga telah melakukan terobosan dalam proses pengadaan alutsista dengan tanpa melalui pihak perantara. Dengan langkah ini pengadaan kian efisien dan tentunya pembangunan kekuatan pertahanan yang dicanangkan mencapai 30 persen ternyata dapat terealisasi hingga 40 persen dari kekuatan pokok. (wh)