Model Kematian Singa KBS Baru Pertama Kali

Model Kematian Singa KBS Baru Pertama Kali

Kematian Michael, singa Afrika koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS), masih menyisakan misteri. Hingga kini, Polrestabes Surabaya masih melakukan penyelidikan serta menganalisis laporan hasil otopsi pihak KBS.

Meski enggan berspekulasi lebih jauh, Direktur Operasional PD Taman Satwa KBS, drh Liang Kaspe mengatakan bahwa kematian singa KBS ini tidak wajar. “Saya tidak bisa mengatakan apakah kematiannya disengaja atau tidak disengaja. Tapi memang tidak wajar,” ujarnya kepada enciety.co, Kamis (9/1/2014).

Liang Kaspe mengungkapkan, model kematian seperti dialami Michael baru pertama kalinya. Sepanjang karirnya di KBS selama 30 tahun, hewan yang mati biasanya karena sakit atau usia.

Ia lalu menjelaskan, Michael tergolong singa remaja. Singa sumbangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim itu usianya baru 17 bulan. Sejak dipindahkan April 2013, kondisinya sehat dan semakin aktif.

“Jadi, Michael sudah berbulan-bulan berada di kandangnya yang sekarang dan selama itu tidak ada masalah,” tuturnya. Prosedurnya, kata Liang, ketika pertama kali dipindahkan, dia akan diawasi 24 jam oleh keeper.

Liang Kaspe menyebutkan, kandang kucing besar di KBS telah memenuhi standar keamanan seperti kebun binatang Indonesia lainnya. Apabila waktu berkunjung di KBS usai, setiap singa dan harimau akan dimasukkan ke kandang dalam untuk beristirahat. Ukurannya berkisar 3×3 meter, ketinggian langit-langit tak sampai 5 meter. Sedangkan di dalamnya terdapat tempat minum terbuat dari semen, berukuran 10 x 20 cm dengan ketebalan 5 cm. Di sisi berseberangan, ada papan kayu setinggi 20 cm untuk tidur.

Dari deskripsi kandangnya, kecil kemungkinan si Michael mati karena bunuh diri layaknya manusia. Dugaan Michael mati karena dijerat pun muncul. Sebab, meskipun singa mampu meloncat setinggi 3,7 meter, singa tidak terbiasa melakukannya.

“Singa itu behavior-nya melompat jauh. Bukan loncat ke atas atau vertikal,” tukasnya. Tiang-tiang besi penyusun kerangkeng kandang juga tak memungkinkan seekor singa seberat 100 kg itu memanjat.

Liang lantas memaparkan beberapa kemungkinan bagaimana Michael bisa tergantung dan terjerat kawat besi pintu kandangnya. “Kemungkinannya banyak. Apakah Subuh itu sudah bangun dan bermain-main? Apakah ada pengganggu seperti hewan lain yang masuk. Atau ada yang memancing? Kami belum tahu,” jelasnya.

Dari hasil otopsi, Michael mati karena anoksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Paru-parunya keriput, warna pucat karena kekurangan oksigen. Dia kehabisan oksigen, karena saluran pernafasannya tertekan. Saya menduga ada yang menjerat,” ucapnya.

Untuk itu, Direktur Utama KBS, Ratna Achjuningrum menyerahkan proses penyelidikan dari sudut pandang kriminalitas kepada pihak kepolisian. Namun tidak dapat dipungkiri, kematian singa KBS ini meninggalkan penyesalan tersendiri.

Singa tersebut menjadi primadona di KBS dan digadang-gadang menjadi indukan. Sehingga diharapkan, bisa membantu perkembangbiakan singa KBS selanjutnya. Michael pun, terhitung sudah mulai jinak. “Waktu pertama datang ke sini, masih agak buas karena mungkin belum kenal. Lama kelamaan, dia hafal dengan saya. Kalau saya datang ke kandangnya, kepalanya ditempelkan minta dielus,” kisahnya.

Saat ditanya kemungkinan orang dalam sebagai dalang kematian Michael, Ratna juga tak mau berkomentar. Tetapi ia mengakui, tak ada nuansa saling curiga antar karyawan. “Tidak ada laporan ke manajemen soal saling tuduh siapa pelakunya. Kami semua pun menyayangkan dan sedih, Michael mati,” pungkasnya.(wh)