Modal Rp 100 Ribu, Novita Elan Coklat Kini Punya Mitra 50 Toko

Modal Rp 100 Ribu, Novita Elan Coklat Kini Punya Mitra 50 Toko

Syani Novita S memamerkan produk buatannya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Modal besar bukan syarat utama jadi pelaku usaha. Hal ini dibuktikan Syani Novita, owner Elan Coklat. Perempuan ini, mengaku hanya bermodal Rp 100 ribu saat merintis usaha, tahun 2009. Namun siapa sangka, dia kini mampu meraup jutaan rupiah per bulan dan bermitra dengan 50 toko di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Sumatera, dan Papua.

Novita, begitu ia karib disapa, memulai usaha akhir tahun 2009. Awalnya, dia sering ikut kegiatan kampung tempat tinggalnya di Jalan Raya Semolowaru, Surabaya.

“Dulu saya sering lihat ibu rumah tangga buat kue coklat. Saya terinspirasi mencoba bikin satu produk. Kurma coklat produk pertama saya. Resepnya saya tanya-tanya kepada ibu-ibu itu. Produknya saya testerkan ke suami ke anak-anak. Alhamdulillah, rasanya enak,” ungkap Novita, ditemui enciety.co di rumah produksi, Jalan Gunung Anyar Tambak Gang Tempura II/51, Surabaya, Sabtu (28/12/2019).

Kala itu, Novita hanya produksi pada saat momen hari besar dan liburan. Seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Pada bulan Puasa tahun 2009, dia berhasil menjual 10 kilogram kurma coklat. “Saya dibantu kawan-kawan. Karena gak bisa jualan. Saya bersyukur ada teman yang mau bantu ,” terangnya.

Tahun berikutnya, bulan Puasa dan Lebaran 2010, Novita mencoba jualan produk yang sama. Dia berhasil menjual 150 kilogram kurma coklat.

Setelah Lebaran, Novita masih punya kelebihan bahan. Ia kemudian berpikir membuat produk baru. Untuk memerkaya pengetahuan, ia membeli beberapa buku resep olahan coklat. Dia belajar secara otodidak.

“Hasilnya saya coba ke kawan-kawan, suami, dan keluarga. Kalau kurang enak ya saya coba lagi. Sampai ketemu rasa yang pas,” ujar istri Agus Ilham (53) ini.

Hingga sekarang, Novita punya 13 macam produk coklat. Yaitu, coklat polipop, coklat unyil, coklat kemasan isi 4, coklat kemasan isi 9, coklat kodok, coklat love kemasan isi 3, coklat kemasan toples, kurma coklat, keripik singkong coklat, coklat kitty, coklat bar kecil, coklat bar besar dan coklat crispy.

Novita kemudian mengembangkan sayap bisnis. Produk coklat buatannya dimasukkan ke beberapa sekolah. Salah satunya, sekolah anak-anaknya. Novita merasa pasar coklat lebih besar untuk anak-anak. Yang paling murah harga Rp 5 ribu, dan yang mahal Rp 70 ribu.

Hasil jualan di sekolah-sekolah tidak maksimal. Novita merasa caranya berdagang kurang tepat. Tidak efektif dan tidak efisien. “Pagi saya berangkat antar anak-anak ke sekolah, lalu saya putar-putar titip coklat sampai siang. Sore, saya ambil yang terjual sambil jemput anak-anak. Ternyata banyak coklat yang rusak karena panas. Saya merugi,” cetus terang ibu dua orang anak itu.

Novita lalu diberi masukan kawan-kawannya agar menggandeng mitra dagang. Sejak 2014, dia mulai menitipkan produk di beberapa toko dan restoran di Surabaya.

Peak season pedagang coklat ini sebenarnya momen Natal dan Tahun Baru. Kalau sudah masuk bulan Desember, saya dulu sampai utang bank buat modal karena banyak pesanan. Setelah itu, saya cepat-cepat kembalikan. Saya takut kalau harus utang,” terang perempuan kelahiran Kerinci, 23 September 1971, ini.

 

Hapus Tiga Kartu Kredit

Modal Rp 100 Ribu, Novita Elan Coklat Kini Punya Mitra 50 Toko
foto:arya wiraraja/enciety.co

Berkat sering bersosialisasi, pada akhir 2014, Novita disarankan salah seorang kawan bergabung dengan Pahlawan Ekonomi Surabaya. Gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan yang diinisiasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sejak 2010.

“Waktu itu, saya masih ngontrak di Raya Simolowaru. Saya cari-cari info ke kantor kelurahan dan kecamatan program itu (Pahlawan Ekonomi, red). Alhamdulillah, saya terpilih ikut road show Pahlawan Ekonomi. Pada bulan Desember 2014, saya lolos ikut awarding di Balai Kota Surabaya,” terangnya.

Setelah bergabung di Pahlawan Ekonomi, Novita mendapat banyak teman dan ilmu baru. Pada tahun 2016, Novita berhasil membangun rumah dan pindah dari kontrakan di Jalan Raya Semolowaru.

“Sekitar tahun 2009 saya beli tanah. Nyicil sedikit-sedikit buat bangun rumah. Saya juga buka tiga kartu kredit buat bangun rumah. Dari usaha saya yang mulai berkembang, saya tutup tiga kartu kredit itu,” ujarnya.

Novita bercerita, saat memutuskan pindah, ia berunding dengan suami. Ketika itu, suami punya bengkel yang sudah berjalan 15 tahun. Suami memberikan pilihan kepada Novita. Jika ia serius menekuni usaha coklat, ia bersedia menutup bengkel dan membantu Novita.

“Karena bengkel dan rumah produksi ini tidak bisa jadi satu. Bengkel itu kan banyak debu, bau oli, dan bau bensin. Jelas akan mengganggu usaha coklat. Akhirnya dengan berbesar hati, suami mau mengalah. Menutup bengkelnya dan membantu usaha coklat ini,” papar Novita.

Usaha Novita terus merangkak naik.  Sekarang, untuk produksi, ia dibantu empat orang. Untuk pemasaran, Novita tidak hanya menyuplai beberapa toko, tapi juga memanfaatkan media sosial untuk jualan.

“Saya juga jualan di Facebook. Saya tahunya ya gara-raga aktif di pelatihan Pahlawan Ekonomi ,” terang dia.

Dari bisnis coklat ini, Novita bisa meraup Rp 43 juta sebulan. Dari raihan tersebut, Novita terpilih menjadi Juara 2 Pahlawan Ekonomi Award 2019 Kategori Home Industry.

Ke depan, ia bercita-cita punya banyak reseller dan agen. “Dulu sih kepikiran punya toko sendiri. Namun semakin ke sini, saya ingin punya banyak agen dan reseller saja. Sehingga saya bisa fokus urusan produksi dan tidak ribet ngurus toko,” tutur dia. (wh)