Minyak Dunia Naik, Pertamina Evaluasi Harga Pertamax

pertamax

PT Pertamina (Persero) masih mengevaluasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax untuk perubahan harga pada pertengahan Februari. Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero), Ahmad Bambang mengatakan, evaluasi harga Pertamax masih dilakukan, karena harga minyak dunia menguat dan dolar menunjukan pergerakan naik pada hari ini. “Masih dievaluasi karena harga minyak dunia sekarang sudah naik ke USD 57 per barel dan kurs Rp 12.800 per dolar Amerika Serikat,” kata Ahmad, di Jakarta, Jumat (13/2/2015).
Data valuta asing (valas) Bloomberg, pada hari ini, nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level 12.741 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah ditutup di level 12.801 pada perdagangan sebelumnya. Nilai tukar rupiah tercatat masih berfluktuasi menguat di kisaran 12.741-12.796 per dolar AS. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah menguat tipis ke level 12.769 per dolar AS.
Sementara itu, harga minyak mentah AS ditutup di atas USD 51 per barel seiring data yang menunjukkan potensi stol mencapai rekor di Cushing, Oklahoma. Minyak mentah berjangka AS untuk Maret naik USD 2,37 atau 4,85 persen menjadi USD 51,21 per barel. Harga minyak Brent berjangka naik USD 2,39 atau 4,37 persen menjadi USD 57,05 per barel setelah turun 3 persen.
Seperti diketahui, harga Pertamax yang dijual di Jakarta Pertamax 92 masih dibanderol Rp 8.000 per liter, Pertamax 95 masih dibanderol Rp 9.050 per liter, dan Pertamina Dex Rp 9800 per liter.
Terkait penjualan Pertamax, Pertamina mencatat meski harga Bahan Bakar Jenis Premium turun, tetapi penjualan tetap stabil. Vice President Fuel Marketing PT Pertamina (Persero), Muhammad Iskandar mengatakan, konsumsi Pertamax meningkat menjadi 6 ribu kilo liter setelah harga turun menjadi Rp 8.000 per liter. Sebelumnya konsumsi Pertamax hanya 2.000 Kl. “Pertamax masih 6.000 kl. Sebelumnya 2.000 sempet naik 6 ribuan sekarang stabil,” ujar Iskandar. (lp6)