Minimarket Diancam Ditutup Jika Nekat Jual Minuman Beralkohol

Minimarket Diancam Ditutup Jika Nekat Jual Minuman Beralkohol
Aparat Satpol PP melakukan razia minuman beralkohol di Surabaya. foto: Avit Hidayat/enciety.co

Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Surabaya akan menutup toko jika masih didapati ada yang menjual minuman alkohol. Ini menyusul bakal diberlakukannya pelarangan menjual minuman beralkohol oleh Kementerian Perdagangan pada 16 April mendatang.

Kepala Disperdagin Kota Surabaya Widodo Suryantoro menegaskan, pada 16 April nanti, pihaknya akan menyisir toko modern dan toko kelontong di Surabaya. Jika pihaknya mendapati adanya toko kelontong maupun minimarket menjual minuman beralkohol, pihaknya akan memberi surat peringatan.

“Kalau surat peringatan tidak digubris, kita akan sita minuman alkoholnya, atau bahkan kita cabut izin usahanya,” tegas Widodo kepada enciety.co, Selasa (14/4/2015).

Kata dia, disperdagin akan berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat dinas (SKPD) terkait untuk persiapan melakukan penyisiran pada 16 Aprli mendatang. Ini karena minimarket yang menjual minuman beralkohol sampai saat ini mencapai 508 toko.

Sementara, Staf Bidang Perdagangan dalam Negeri Disperdagin Kota Surabaya M Soetoni menambahkan, pemberlakuan Permendag tersebut untuk semua took, kecuali supermarket, restoran, tempat yang memiliki izin khusus, dan hotel. Selain tempat-tempat yang disebutkan tersebut, disperdagin berhak melakukan penyitaan.

“Kami sudah menyiapkan berbagai kemungkinan teknis saat operasi gabungan nanti. Bersama dibantu Satpol PP Surabaya nanti kalau masih banyak yang membandel kita akan sita,” tegasnya.

Meski begitu, kata Soetoni, pemberlakuan sanksi akan beragam. Pihaknya tidak akan serta merta melakukan pencabutan izin usaha kalau pihak pedagang kooperatif. Karena itu, sebelum tanggal 16 April pihaknya meminta kepada pedagang dan minimarket untuk tidak menjual minuman beralkohol.

“Toko yang sudah tidak menjual alkohol saat ini jumlahnya sudah cukup banyak. Karena itu nanti kita akan update terus datanya. Tapi saya lihat mereka (pedagang) sudah tahu, dan bersedia untuk tidak menjual sebelum 16 April,” ungkapnya. (wh)