Mengintip Kilau Bisnis Batu Mulia di Kayoon

Mengintip Kilau Bisnis Batu Mulia di Kayoon

Mengintip Kilau Bisnis Batu Mulia di Kayoon

Puluhan etalase kaca berjajar, memantulkan gemerlap benda-benda mini. Di bawah penerangan lampu fluorescent, warna merah batu ruby Birma berkilat-kilat centil. Tak jauh di sebelahnya, bertengger ruby Madagaskar dan pirus hijau. Semuanya tertata rapi.

Masih di tempat yang sama, ada safir ceylon berbagai ukuran, topas, kalimaya (opal). Emerald hijau yang tersohor, mengerling dari sudut bersama mata kucing, amethyst, berlian, dan puluhan jenis gemstone lainnya.

Siang yang terik. Di sudut Pasar Kayoon (biasa disebut Kayun, red). Lalu lalang orang-orang tak pernah reda. Sedari pagi hingga sore. Mereka dari berbagai kalangan, dari anak muda, dewasa, bahkan ada juga yang manula.

Sejak zaman kolonial, Pasar Kayoon dikenal sebagai salah satu sentra kongkow-kongkow nonik dan tuan Belanda. Seakan menjadi pelengkap suasana, Pasar Kayoon terletak di pinggir sungai Kalimas. Hilir mudik kapal mengangkut barang dari dan ke pelabuhan di utara Soerabaia.

Siapa yang menyangka, kini di sana terdapat pusat penjualan batu mulia yang ramai dikunjungi. Wujudnya hampir-hampir tenggelam di antara deretan pot dan kembang. Orang awam menyebutnya batu akik. Tapi, jangan bilang begitu di depan mereka yang menghargai betul indahnya batu-batu cantik itu.

“Bukan, itu bukan akik. Namanya batu mulia,” sergah seorang pria beruban cepat-cepat. Zainuddin Assar, begitulah ia memperkenalkan diri.

Sambil mempersilakan saya melihat-lihat koleksi di balik etalasenya, Udin, begitu ia karib disapa, mengeluarkan sebungkus plastik hitam agak kumuh dari balik lemarinya. “Nah, kalau yang ini baru namanya akik. Kamu boleh ambil sesuka hati,” katanya.

Suara gemeletak seperti kerikil langsung menyeruak. Pantas saja Udin bilang saya boleh mengambil. Akik termasuk golongan batu yang tak terlalu mulia. Paling murah harganya cuma Rp 10 ribu. Paling mentok mencapai ratusan ribu saja. Warnanya pun tak sekilau batu yang berjajar apik di bawah kaca yang disinari lampu kebiruan.

Mata saya lantas berpindah dari akik-akik murah ke dasar etalase. Yang di bawah sana, kilatan cahayanya berbeda. Ada berbagai jenis batu mulia yang terpajang. Sebagian besar, kata Udin, merupakan batu impor. Pria yang bergelut di dunia batu mulia selama 12 tahun itu lalu mengurutkan jenis mana saja yang laris.

“Paling laris itu mulai cat eye (mata kucing), ruby, safir, zamrud,” ujarnya sambil mengeluarkan jari jemari. Ada yang diimpor dari Myanmar, Kolumbia, Srilangka, dan dataran Afrika.

Udin boleh dibilang pebisnis yang ulet. Dua belas tahun ia berbisnis batu mulia. Kini, ia membangun dinasti bersama beberapa keponakannya di Jakarta. Ia mengaku, bisnis ‘akik’ untungnya tak menentu. Sekali laku, bisa dipakai mencukupi kebutuhan selama beberapa bulan.

“Tapi kalau sepi, ya bersabar saja. Karena batu mulia bukan sembako yang orang setiap waktu membutuhkan,” ujarnya. Emban (cincin tempat batu diletakkan) bisa seharga Rp 500 juta. Sedang batu mulia lebih beragam. Paling mahal, Udin bisa meraup Rp 1-2 miliar untuk jenis ruby merah yang terkenal memesona.

Dari Udin, saya mengantongi nama seorang pebisnis paling tersohor di pusat batu mulia Pasar Kayoon. Saat saya menghampirinya, pria bertopi merah itu menyambut saya dengan hangat. Namanya Wahyudi, pemiliki Selo Group Jewellery. Ia menolak disebut juragan akik.

“Soalnya jualan batu mulia itu buat saya adalah hobi. Hobi yang akhirnya jadi pekerjaan, sehingga untung rugi urusan nanti,” ujarnya membuka percakapan kami. Ia lantas mengajak saya mengunjungi lapaknya di sebelah timur stand Udin.

Sambil membiarkan mata saya menelusuri dengan kagum banyaknya koleksi batu mulia Wahyudi, ia menjelaskan mengapa ‘si akik’ ini begitu diburu orang. “Batu mulia dianggap memiliki kualitas tinggi ketika ia memenuhi syarat 4C; carat, colour, cutting, dan clarity,” urainya. Karat dari emban, pendar warna, bentuk potongan, serta kejernihan mempengaruhi derajat suatu batu mulia.

Bagi mereka yang masih awam, butuh bantuan orang terpercaya seperti Wahyudi agar tak tertipu. “Bisnis batu mulia itu berdasarkan pertemanan. Karena lingkungan orang-orangnya saling terkait,” ujarnya.

Karena itu, kata Wahyudi, bagi yang terlanjur kepincut dengan si batu, ada semacam ikatan keakraban yang terjalin di antara penyukanya. Nongkrong hanya untuk sekadar bertukar informasi adalah hal yang biasa.