Militer Thailand Tahan PM Terguling

 

Militer Thailand Tahan PM Terguling

Mantan Perdana  Menteri Thailand Yingluck Shinawatra  ditahan oleh militer yang kini memimpin negeri tersebut lewat kudeta.  PM cantik ini sebelumnya dipanggil untuk diajak lakukan pembicaraan pada Jumat (23/5/2014), namun ujungnya ditahan. Kudeta ini dilakukan oleh Panglima Militer Jendral Prayuth Chan-ocha.

Prayuth melancarkan kudeta setelah pihak-pihak bertikai menolak untuk mengalah dalam konflik antara pendukung kerajaan dan pemerintahan Yingluck, yang telah memicu kekhawatiran terjadinya kekerasan serius dan merusak perekonomian negara.

“Kami telah menahan Yingluck, saudara perempuannya dan saudara iparnya,” kata seorang pejabat militer senior. Kedua keluarga Yingluck tersebut memiliki kedudukan politik yang tinggi.

“Kami akan menahannya selama tidak lebih dari seminggu, itu akan terlalu lama. Kami hanya perlu mengatur beberapa hal di dalam negeri terlebih dulu,” kata pejabat yang menolak disebutkan namanya tersebut.

Ia menolak menyebutkan dimana Yingluck ditahan, namun menurut media setempat, Yingluck berada di sebuah markas tentara di provinsi Saraburi di utara Bangkok.

Tentara menahan para politisi dari kedua belah pihak yang bertikai, Kamis, setelah Prayuth mengumumkan pengambilalihan kekuasaan oleh militer, yang kemudian menuai kecaman internasional.

Dalam operasi terkoordinir untuk menetralisir kemungkinan penentangan atas kudeta, pihak militer memanggil Yingluck untuk bertemu dan kemudian mencekalnya bersama 154 politisi dan aktivis.

Yingluck merupakan saudara perempuan Thaksin Shinawatra, miliarder pengusaha telekomunikasi yang kemudian berubah haluan menjadi politisi. Ia mendapat dukungan besar dari warga miskin namun dicaci oleh kelompok pendukung kerajaan yang menuduhnya terlibat korupsi dan nepotisme. Ia digulingkan sebagai perdana menteri melalui kudeta militer pada 2006.

Saat menanggapi pemanggilan dirinya, Yingluck tiba di markas militer pada siang hari bersama beberapa politisi. Prayuth berada di lokasi yang sama namun tidak ada konfirmasi apakah keduanya bertemu.

Setelah Prayuth meninggalkan lokasi, sembilan mobil van berkaca gelap tampak meninggalkan tempat tersebut namun belum jelas apakah Yingluck berada dalam salah satu mobil itu, atau kemana mereka pergi.

Seorang asisten menteri dari pemerintahan terguling mengatakan beberapa orang, termasuk atasannya telah ditahan. Seorang mantan asisten Yingluck mengatakan selama berjam-jam ia tidak bisa dihubungi melalui telepon.

Yingluck diturunkan dari jabatannya sebagai perdana menteri melalui vonis pengadilan pada 7 Mei, namun pemerintahan sementara yang menggantikannya masih tetap berkuasa meski militer menyatakan darurat militer pada Selasa.

Prayuth juga memanggil ratusan pegawai negeri sipil dan mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan mereka.

“Kita harus melakuka reformasi ekonomi, sosial, dan politik sebelum pemilu. Jika situasi damai, kita siap untuk mengembalikan kekuasaan pada rakyat,” katanya.

Pihak militer menyensor media, membubarkan pengunjuk rasa dan memberlakukan jam malam di seluruh negeri mulai pukul 10 malam hingga 5 pagi. (bns/ram)