Mie Kirin Indonesia Bentuk Keprihatinan Akan Budaya Instan

Mie Kirin Indonesia Bentuk Keprihatinan Akan Budaya Instan
Hasil Karya Seni “Mie Kirin Indonesia” yang dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS) Surabaya. Kamis (3/3/2016). foto: HoS

Keinginan untuk serba instan, cepat, mudah sudah menjadi fenomena tersendiri pada kehidupan masyarakat modern saat ini. Salah satunya adalah kepopuleran mie instan sebagai makanan pokok yang hampir menyamai konsumsi beras.

Hal ini mematik kegalauan Arga Aditya, kurator muda komunitas Makmur Project. Dia kemudian menggandeng enam seniman yang tergabung dalam komunitas tersebut menuangkan pola konsumsi kekinian masyarakat Indonesia dalam pameran seni rupa dengan tema Mie kirin Indonesia.

Acara tersebut diadakan mulai tanggal  4 hingga 26 Maret 2016 di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS), Jalan Taman Sampoerna Surabaya.

“Pesimisme dan sinisme artistik atas keprihatikan akan budaya instan disajikan dengan berbagai bumbu yang berbeda namun tetap apik kedalam 11 karya seni rupa lukis, grafis dan instalasi penuh warna dan sindiran positif para seniman muda Jakarta, Semarang, Surabaya dan Jogja,” ungkap Arga, Kamis (3/3/2016) siang.

kata dia, Makmur Project yang dibentuk di bulan Agustus 2015 dan dipelopori oleh beberapa seniman, akuntan dan curator, merupakan sebuah proyek untuk mengulas berbagai fakta menarik dibalik fenomena popular masyarakat Indonesia.

“Selain itu, lewat komunitas ini kami ingin menjadi wujud kepedulian pemuda terhadap kondisi bangsanya. Setiap proyek yang diangkat akan melalui tahapan observasi oleh semua pihak yang terlibat. Hasil dari observasi inilah yang kemudian dipresentasikan dalam bentuk pameran seni rupa” ungkap Arga Aditya.

Sementara itu, dalam karya “Survivor” yang menghadirkan cropping tubuh seorang lelaki gagah yang berdiri hening di antara putih bulu halus yang bertaburan. Danni Febriana, salah satu seniman yang ikut dalam acara tersebut, menggambarkan keberadaan masyarakat indonesia sebagai pelaku konsumtif, dan korban derasnya arus ketergantungan impor bahan pangan dari luar negeri.

Tak jauh beda, Dien Firmansyah memamerkan karya berjudul “Too Easy to be Hard, It’s You?” yang bercerita bagaimana pemuda masa kini terbuai dengan banyaknya kemudahan. “Seperti halnya dengan mie instan yang mampu menghipnotis & membuat banyak orang menjadi ketergantungan,” tuturnya menjebarkan.

Lain halnya dengan karya “Replika Altar” dari Ragil Surya. Dia memamerkan sebuah karya instalasi berbentuk altar yang mengilustrasikan upaya memaknai fenomena pola konsumtif yang kehilangan logika.

“Dengan karya ini, saya mengajak para penikmat seni untuk menciptakan ruang tenang sebagaimana umat melepas duniawi saat bertemu pencipta-Nya,” ulas dia.

Begitu pula dengan ke-3 karya seni lainnya “Disturbing Picture” – Muchlis Fahri, “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China” – Byba Dolby S, dan “Biasa” – Devy Ika N, yang turut mencermati pola konsumtif masyarakat dengan menuangkannya kedalam karya-karya kreatif lainnya.

Solusi dalam rupa kreasi seni juga dihadirkan para seniman. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengajak masyarakat meningkatkan penggunaan bahan baku lokal seperti beras, ketela, maupun singkong dalam keseharian kehidupannya.

Selain karya seni kreatif yang dapat dinikmati, tersedia pula sebuah ruang interaktif nan unik yang merupakan wadah komunikasi antara pengunjung dan seniman. Melalui ruang inilah masyarakat diharap memberikan umpan balik atas karya yang dihadirkan oleh para seniman. (wh)