Michael Essien, Persib dan Sepakbola Indonesia

foto: persib.co.id

Musim ini, Sepakbola Indonesia dipastikan akan lebih berwarna.   Salah satunya dipicu oleh kehadiran Michael Essien di pelataran sepakbola nasional. Mantan pemain Chelsea ini, resmi berseragam  Persib Bandung.  Klub  yang memiliki basis supporter cukup besar ini, berani mendatangkan Essien, tentu saja  tak semata untuk menambah kekuatan permainan. Lebih dari itu,   nama besar yang pernah dimiliki  mantan pemain timns Ghana ini, tentu saja diharapkan menggerakkan ‘ekonomi’  klub.

Di era industri   seperti sekarang ini,  kreatifitas dan daya  inovatif memang perlu dikedepankan klub untuk eksis.  Klub tak boleh lagi dikelola dengan pola lama; menggantungkan santunan ataupun kebaikan dari orang per orang.  Ini bahaya. Apalagi di tengah musim Pilkada seperti sekarang ini. Banyak godaan yang biasanya sulit ditampil para pengelola klub.

Kehadiran Essien di Persib, harus menjadi trigger sekaligus membuka mata  semua pengelola klub di tanah air. Bahwa fenomena industrialisasi sepakbola sudah tak bisa dihindari. Pola lama  tak akan menjamin eksistensi klub. Begitu juga dengan prestasinya. Kalau ‘sang godfather’ lagi punya mood bagus, bisa jadi prestasi akan terdongkrak. Kalau tidak?  Prestasi bisa terjun payung.

Persib yang memiliki basis supporter cukup besar dan banyak disebut-sebut sebagai klub yang dikelola paling professional diantara yang lain,  masih juga mau repot-repot mendatangkan Essien. Bahkan, untuk ini, kabarnya Persib harus merogoh kocek yang yang cukup dalam.   Rumornya,   untuk satu musim, Essien bakal dibayar Rp 4 miliar.  Angka yang cukup besar untuk satu pemain saja. Bahkan, angka ini sudah cukup untuk membeli klub yang berlaga di Liga2 (Divisi Utama).

Melihat jejak rekam nilai gaji pemain ini dalam dua tahun terakhitr, angka sebesar itu, sebetulnya  relatif kecil. Pada Juli 2015, Essien bergabung dengan klub Yunani, Panathinaikos, dan mendapat bayaran lebih dari 1,6 juta euro atau Rp 22,7 miliar per musim.

Setahun kemudian, kontrak pemain ini diputus kontraknya oleh Panathinaikos. Setelah itu, Essien praktis tidak memiliki klub. Pemain berusia 34 tahun sempat dikabarkan hijrah ke Liga Australia, tapi batal.

Bila melihat data dari transfermarkt, nilai Essien mencapai 800 ribu euro atau setara Rp 11 miliar. Namun, bila melihat anggaran klub-klub top Indonesia sekalipun, belum ada yang rela merogoh kocek sebesar itu hanya untuk satu pemain.

Yang menarik, harga transfer Essien  pernah menyentuh 45 juta euro atau sekitar Rp 640 miliar. Kala itu, Essien dibeli Chelsea dari Olympique Lyon pada Agustus 2005 dan hampir 12 tahun kemudian, nilai sang pemain menurun drastis. (ram)