Meski Turun, Bea Masuk Impor Sapi Masih Dikeluhkan

Meski Turun, Bea Masuk Impor Sapi Masih Dikeluhkan

Kapal yang mengangkut sapi dari Australia di Terminal Perak Surabaya, Kamis (28/4/2016). foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Berkat dukungan pemerintah menyederhakanan protokol kesehatan hewan impor sapi indukan, masa karantina di negara asal telah berkurang dari 14 hari hanya menjadi 7 hari.

Pengurangan masa karantina tersebut berdampak secara langsung pada penurunan biaya karantina dan pemeriksaan hewan sapi indukan impor dari US$ 220/ekor menjadi hanya USD.

Head of Breeding PT Santosa Agrindo (Santori), Dayan Antoni, mengatakan meskipun biaya sudah turun tetapi pengenaan bea masuk atas impor sapi indukan masih menjadi beban yang cukup berat.

“Bea masuk untuk sapi indukan sebesar 5 persen. Jika berat sapi indukan sebesar 300 kg maka bea masuknya mencapai Rp 600.000 per ekor. Ini masih menjadi PR buat Pemerintah kalau mau meningkatkan,” kata Dayan Antoni, Kamis (28/4/2016).

Meskipun harga impor sapi indukan sudah menurun namun biaya untuk melakukan usaha budidaya pembiakan tidak serta merta menurun. Sistem pembiakan sapi potong dengan model sapi dikandangkan yang umumnya dilakukan di Indonesia karena minimnya lahan merupakan penyebab utama tingginya biaya produksi.

Tingginya biaya produksi tersebut disebabkan karena pakan harus disiapkan secara cut & carry dan bukan dengan sistem merumput (penggembalaan). “Untuk memproduksi satu ekor sapi dari membuntingkan induk hingga anak lahir dan menjadi sapi siap potong membutuhkan biaya sekitar Rp 17.000.000,- dengan berat akhir sapi sekitar 370 kg. Belum lagi untuk bisa menghasilkan 1 ekor sapi hingga siap potong membutuhkan waktu 2,5 sampai 3 tahun. Berbeda dengan usaha penggemukan sapi yang hanya membutuhkan waktu sekitar 4 bulan, resiko biaya, kematian dan beban bunga di usaha pembiakan sangat tinggi” lanjutnya.

Tingginya biaya produksi serta resiko dan panjangnya jangka waktu untuk melakukan pembiakan menjadi penyebab utama rendahnya minat pengusaha melakukan breeding sapi. Padahal salah satu dukungan agar swasembada sapi dapat dipenuhi dengan produksi sapi bakalan dalam negeri adalah dengan melakukan pembiakan sapi dalam skala ekonomi yang besar dan efisien.

Rendahnya minat pengusaha untuk melakukan pembiakan sapi menjadi tantangan untuk melakukan swasembada sapi. Selain harus difasilitasi dengan menurunkan biaya protokol impor sapi indukan, agaknya sektor swasta membutuhkan insentif lebih agar meningkatkan minat untuk melakukan pembiakan.

Selain berupa insentif fiskal seperti pengurangan bea masuk, tax holiday, serta instrumen lainnya, diperlukan pula fasilitasi Pemerintah untuk skim kredit pembiayaan bunga rendah dengan grace period minimal 5 tahun dan sapi indukan sebagai agunan, serta juga penyediaan lahan yang siap untuk pengembangan usaha.

Dukungan itu semua menjadi prasyarat yang harus disiapkan Pemerintah apabila investasi pembiakan sapi potong ingin digalakkan. “Kami berharap agar ada dukungan kebijakan Pemerintah yang komprehensif dan konkrit untuk mengurangi beban resiko usaha yang tinggi agar meningkatkan minat pelaku usaha untuk berinvestasi di usaha pembibitan dan pembiakan,” ujar Dayan. (wh)