Meski Tenda Ambruk, Api PON Remaja Tetap Dikirab dari Grahadi

Meski Tenda Ambruk, Api PON Remaja Tetap Dikirab dari Grahadi

Kendati sempat diterjang angin puting beliung dan hujan deras, kirab Api PON Remaja tetap digelar sesuai jadwal, yaitu pukul 15.30 WIB, Selasa (9/12/2014).

Para tamu undangan dan atlet yang ikut kirab terpaksa tidak duduk di bawah tenda karena seluruh tenda ambruk setelah sesaat sebelumnya diterjang angin puting beliung.

Kirab sendiri didahului dengan penyulutan api dari tungku api Kayangan Api yang sudah sejak kemarin berada di Grahadi. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang menyulut api ini lantas memberikannya ke Aditya, salah seorang atlet lari andalan Jawa Timur.

Aditya, bersama beberapa rekannya lantas berlari membawa api ini untuk dikirab menyusuri jalanan protokol Surabaya menuju ke DBL Arena tempat berlangsungnya pembukaan PON Remaja.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengatakan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja pertama yang diselenggarakan di Provinsi Jawa Timur merupakan langkah awal rekrutmen atlet. Bibit-bibit unggul pada berbagai cabang olahraga yang diperlombakan akan masuk pertimbangan untuk dibina lebih lanjut.

“Malam ini saya akan buka acara PON Remaja, ini adalah langkah awal untuk rekrutmen atlet-atlet kita disemua cabang olahraga yang dilaksanakan. Kami sedang melihat dan menilai standar rekrutmen atlet dan penyelenggaraannya seperti apa, baru nanti akan diputuskan,” Kata Menpora Imam Nahrawi usai memberikan Kuliah Umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Selasa (9/12/2014).

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan PON Remaja yang pertama, Menpora atas nama pemerintah pusat mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Ia percaya Jawa Timur dapat melaksanakan gelaran olahraga nasional ini dengan baik. “Ini sejarah bagi  Jawa Timur untuk penyelenggaraan PON Remaja Pertama. Semoga berjalan dengan baik dan menghasilkan atlet profesional. Terima kasih pada Pemprov Jatim,” Ungkap Menpora yang biasa disapa Cak Imam ini.

Lebih lanjut, dijelaskan Imam, fenomena negatif yang masih terjadi di kalangan atlet adalah saling rebut atlet antar Kabupaten bahkan antar provinsi. Hal tersebut menurutnya disebabkan karena tidak meratanya persebaran atlet antar daerah. Selain itu juga diakibatkan karena belum ada sarana dan prasarana latihan yang memadai pada setiap kabupaten. “Masih ada yang rebutan atlet atau dioper ke kebupaten lain. Ini yang juga menjadi PR Kemenpora untuk mengatasinya,” tandasnya.

Ke depan, pihaknya memastikan PON Remaja akan menjadi agenda rutina apabila penyelenggaraan PON Remaja berjalan baik dan lahir atlet potensial. Ia menilai melalui PON Remaja pemuda-pemuda Indonesia dapat menunjukkan prestasinya sehingga dapat diproyeksikan pada gelaran dan level yang lebih tinggi seperti ASEAN, Asia  bahkan dunia. (ss/kmf/wh)