Mesin Pemarut Kelapa Siswa SMK St. Louis Surabaya Siap Diproduksi Massal

Mesin Pemarut Kelapa Siswa SMK St. Louis Surabaya Siap Diproduksi Massal
Setiyoko, guru Teknik Mesin SMK St. Louis Surabaya dan salah seorang siswanya saat mengikuti Pameran Pendidikan 2015, di Balai Pemuda. foto:arya wiraraja/enciety.co

Inovasi dilakukan Siswa SMK St. Louis Surabaya. Mereka membuat mesin pemarut kelapa. Mesin  ini dapat diproduksi masal guna mencukupi kepentingan industri rumahan atau usaha kecil menengah (UKM) di Kota Surabaya.

“Untuk memarut satu biji kelapa, mesin ini membutuhkan waktu sekitar 2 menit dengan menggunakan cara manual dengan mengayuh tuas. Namun jika kita ingin proses yang lebih cepat, kita cukup menghubungkan tuas tadi dengan motor yang dihubungkan pada stop contact listrik,” urai Setiyoko, Guru Teknik Mesin SMK St. Louis Surabaya, kepada enciety.co, d isela Pameran Pendidikan yang diadakan di Balai Pemuda Surabaya, Kamis (29/10/2015) malam.

Dia lalau mengungkapkan, jika para siswa SMK St. Louis memang diwajibkan untuk membuat sebuah karya ketika akan melakoni ujian akhir nasional (Unas).

“Untuk itu, kita merancang dengan memberikan kesempatan pada mereka ketika memasuki kelas XII. Saban hari Sabtu, mereka diwajibkan untuk menyelesaikan karyanya. Hal ini dilakukan lantaran agar mereka dapat segera menyelesaikan tugasnya sebelum masuk persiapan Unas,” papar dia.

Untuk membuat mesin pemarut kelapa ini, waktu yang dibutuhkan para siswa rata-rata satu tahun. Setyo menjelaskan, mesin tersebut kebanyakan diolah dari bahan bekas. Namun, motor mesin pemarut kelapa tersebut dbeli baru.

Mesin Pemarut Kelapa Siswa SMK St. Louis Surabaya Siap Diproduksi Massal

Untuk menciptakan satu mesin pemarut kelapa, tutur dia, ada 5 siswa dalam 1 kelompok yang menciptakan 1 mesin. “Dibutuhkan Rp 2 juta untuk menciptakan 1 mesin. Untuk dana, kami mencanangkan agar mereka mengadakan iuran rutin dalam 1 tahun,” jelas dia.

Dia berharap, agar hasil kreativitas para anak didiknya teraebut dapat diproduksi secara masal. “Sebenarnya, banyak produk kreatif yang telah siswa-siswi kami hasilkan. Namun, ke depan kami ingin hasil kreatif ini dapat berguna, dalam arti dapat diproduksi massal dan dipakai serta laku dipasaran,” tandasnya. (wh)