Meretas Keterbukaan di Bumi Emas

Meretas Keterbukaan di Bumi Emas

Oleh : Agus Wahyudi*

Harapan besar pantas diapungkan di Bumi Papua. Provinsi yang memiliki tambang emas terbesar di dunia ini, kurun waktu terakhir, terus berbenah. Geliat pembangunan di sektor infrastrukstur, kesehatan, dan pendidikan, makin ditingkatkan.

Papua memang menjadi provinsi terkaya. Provinsi yang menjadi tanah emas karena gunung-gunungnya banyak mengandung logam mulia. Kekuatan sumber daya alam itu sangat menggiurkan. Mayoritas kalangan penduduk Papua kini lebih suka menyebut Papua dengan Nuu Waar. Maknanya, mampu memberi harapan. Nuu Waar tidak hanya diartikan sebagai bumi yang mengandung dan melahirkan (terbitnya) matahari, tapi juga bisa diartikan sebagai bumi yang mengandung atau menyimpan cahaya emas.

Papua sekarang jauh lebih bersolek. Terlebih setelah pemerintah pusat menerapkan otonomi khusus (otsus) yang sudah berjalan 12 tahun. Kesan modern itu saya rasakan saat melihat Kota Jayapura, ibu kota Provinsi Papua. Kota yang indah ini terletak di Teluk Jayapura. Hampir saban hari, Jayapura selalu diguyur hujan, meski kadang intensitasnya tidak besar.

Brand-brand terkemuka sudah hadir di Jayapura. Di antaranya Pizza Hut, KFC, Starbuck, Natasha Skin Care, J.Co, Dunkin’ Donuts, Hypermart, Matahari Departmen Store. Hotel bintang empat, seperti Aston, Swiss-Belhotel, dan Sahid tak pernah sepi penginap.

Bandara Sentani juga begitu. Pembangunan fisik masih berlangsung. Desember tahun ini, dijadwalkan kelar. Yang sementara berjalan adalah perpanjangan landasan. Tadinya hanya sejauh 2.500 km, kini ditambah menjadi 3.000 km. Selain pembangunan landasan, juga akan ada penambahan satu buah garbarata lagi. Garbarata ini dipesan secara khusus dari PT Bukaka. Harganya, Rp 8 miliar per unitnya.

Airline yang terbang Bandara Sentani juga lumayan padat. Ada 10 penerbangan dari Jakarta ke Jayapura setiap harinya. Garuda Indonesia bahkan terbang 3 kali sehari dari Jakarta. Batik Air terbang nonstop selama 5 jam dari Jakarta ke Jayapura setiap harinya. Sriwijaya Air terbang tiga kali setiap pekannya rute Jakarta-Jayapura. Lion Air melayani dua kali rute Jakarta-Jayapura setiap hari di malam hari.