Merawat Kepercayaan Pelanggan, Kunci Sukses Rasyida Alam

Merawat Kepercayaan Pelanggan, Kunci Sukses Rasyida Ala
Rizanty Tuakiya selalu berkomitmen menjaga kepercayaan pelanggannya. Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Janji seorang pengusaha terhadap para pelanggannya harus dapat terpenuhi. Hal tersebut bertujuan untuk meraih kepercayaan penuh para pelanggan agar tidak beralih ke pengusaha lain.

Hal tersebut menjadi prinsip kerja utama Rizanty Tuakiya, pengusaha tekstil di Surabaya. Menurut wanita pendiri Rasyida Alam ini, kepercayaan pelanggannya yang membuat dirinya besar hingga sekarang ini.

“Pertama kali membuka usaha hanya di garasi rumah saja. Itu pun hanya dibantu satu penjahit saja,” kata Rizanty Tuakiya saat ditemui enciety.co di workshop-nya yang berada di kawasan Kebonsari Sekolahan, Surabaya, Selasa (12/1/2016).

Ia lalu menceritakan, sebelum memutuskan membuka pembuatan busana Muslim etnik tahun 2001 lalu, wanita yang telah bekerja sebagai penyiar radio di salah satu stasiun radio di Surabaya tersebut hanya berkeinginan untuk membantu salah seorang janda di kampungnya.

etnik-1 etnik-3

Dirinya yang merasa kasihan akhirnya memberanikan diri untuk mengajak ibu tersebut untuk menjadi penjahitnya. Untuk pembuatan desain, Rizanty sendiri yang bertugas untuk membuatnya.

Untuk meraih kepercayaan dari masyarakat, Rizanty kemudian memproklamirkan diri bila ada pelanggan yang mambuat busana hingga hari yang ditentukan tidak selesai maka akan dibebaskan dari biaya.

“Dengan janji biaya gratis tersebut, banyak pelanggan yang akhirnya beralih ke kami dan meninggalkan penjahit yang lain. Dan hal tersebut berlaku hingga kini. Awal-awalnya sih puyeng karena banyak modal untuk menalangi kerugian itu, tapi ndak mengapa karena para pelanggan senang,” tutur ibu dua anak ini.

Melihat pelanggannya semakin banyak, Rizanty yang dipercaya Dinas Perdagangan dan Perindustrian Surabaya, memutuskan mengikuti pameran pada 2005 lalu. Dari pameran inilah, dirinya akhirnya mempunyai ide untuk menjadi pembuat busana muslim lain dari yang lainnya.

Ia menemukan bila busana muslim dipadu padankan dengan motif etnik akan semakin matching. Untuk mendukung usahanya, ia kemudian mencari pelukis yang bisa mengimplementasikan keinginannya. Mulai dari motif wayang, bunga, dan pemandangan dijadikan lukisan etnik yang dipadu padankan dengan busana muslim bikinannya.

“Busana muslim yang gak umum membuat pelanggan semakin mencari ke sini. Karena tahu sendiri kan bila baju muslim itu banyak di pasaran, tetapi untuk yang etnik masih sedikit,” lanjut pemilik dengan 50 karyawan ini.

Di tahun 2006, akhirnya peraih Piala Upakarti dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2012 lalu, memutuskan untuk mengontrak rumah. Ini karena tempat tinggalnya yang ditempati tak menampung lagi akibat dipenuhi puluhan mesin jahit.

Rizanty juga memberikan resep agar pelaku bisnis busana agar tidak cepat puas diri. Diharapkan harus ada pergantian tema agar masyarakat atau pelanggan tidak bosan dan lari ke tempat lainnya. Minimal dua tahun, dirinya mengganti tema busana muslim.

Kini, Rizanti yang mengaku beromzet Rp 300 juta tersebut mencoba dengan tema Jepara karena tema Bima sudah sering dikerjakannya. “Dengan tema yang berbeda pelanggan akan terus mencari yang terbaru,” pungkasnya. (wh)