Menulis Buku untuk Membangun Personal Branding

Menulis Buku untuk Membangun Personal Branding

Banyak orang yang mempunyai banyak ide, tapi miskin menulis. Sibuk, begitulah biasanya alasannya. Padahal, saat ini adalah era personal branding melalui buku.

Membuat buku kini tak rumit. Bahkan, tak bisa menulis pun Anda bisa meminta bantuan ghost writer alias penulis bayaran. “Bisnis buku tak akan pernah mati,” tukas pakar statistik ITS, Kresnayana Yahya, dalam Bincang Bisnis di Spazio, Rabu (11/12/2013) malam.

Kresnayana mengatakan, meski sudah banyak bermunculan e-book, banyak orang yang masih belum terbiasa dengan formatnya. “Kita masih membutuhkan feeling memegang kertas,” sebutnya.

Kresnayana lalu menuturkan, omset penjualan buku tiap tahun meningkat sekitar 20 persen. Selain buku agama dan novel yang menjadi jujugan minat baca masyarakat, masih ada lagi satu jenis buku yang trennya tak kalah baik, yaitu buku biografi.

“Buku biografi sekarang bahkan dibuat nggak harus menunggu orangnya meninggal. Contohnya, Chairul Tanjung,” tandasnya.

Chairul Tanjung atau CT, sebelumnya bukanlah sosok yang dikenal meskipun sudah memulai kiprah sebagai pengusaha besar cukup lama. Namun seiring waktu, CT mulai dilirik gara-gara membangun personal brand-nya melalui buku biografi.

Buku biografi kemudian menjadi salah satu cara paling ampuh untuk membangun brand seseorang. Setidaknya, dibutuhkan tiga komponen penyokong. Yaitu brand environment, brand communication, brand discovery, dan brand stability-nya. Kuncinya adalah menjadi sedikit narsis.

“Narsis dikit lah. Karena kalau nggak berkomunikasi, siapa yang mengerti?” ucapnya , lantas disambut tawa seisi auditorium.

Menurut Kresnayana, apabila kita mewakili sebuah corporate, ideology, maka kita harus mengekspresikan diri Anda. “Sebab, personal branding adalah hasil dari persepsi, tingkah laku, dan sikap. Itu yang harus direalisasikan,” imbuhnya.

Selanjutnya, personal brand yang powerful akan dibangun oleh pesan komunikasi (message), media, dan pasar (market).(wh)