Menulis Buku sebagai Terapi

Menulis Buku sebagai Terapi
Filise (Manager Gramedia), Edy Zaques (writing trainer), Adi W Gunawan (penulis), dan Kresnayana Yahya.

Menjadi ibu rumah tangga yang full mengabdi untuk keluarga adalah proses yang berat. Wajar, sebelumnya profesi Amelia Hirawan adalah wanita karir. Sebagai seorang psikolog, ia lantas mencari cara untuk mentransformasi jiwa aktif bekerjanya.

“Suami saya melihat saya seperti stres. Ia lalu menyarankan saya untuk menulis. Ya sudah, saya pun menulis,” kisahnya dalam Bincang Bisnis bertajuk Book Writing Skill for Executive Branding di Spazio, Rabu (11/12/2013) malam.

Amelia lantas berbagi ceritanya menjadikan menulis buku sebagai terapi. Buatnya, menulis adalah pemberdayaan diri . Membangun sikap. Sehingga, menulis harus punya target.

“Buku pertama saya tentang Breastfeeding, memuat pengalaman-pengalaman saya dalam menyusui dan membesarkan anak pertama. Butuh waktu dua tahun,” tuturnya.

Dari sanalah ia belajar mengenai komitmen menulis secara bertarget. Buku berikutnya, Art is Fun, diselesaikan dalam waktu empat bulan.

Ia melanjutkan, menulis itu juga mengembangkan kecerdasan. Amelia lalu mencontohkan asisten rumah tangganya, Ayuli. Dia hanya tamatan SMP. Semula, tulisan Ayuli acak-acakan. Tanpa spasi, tanda baca, bahkan struktur kalimatnya tak karuan.

“Saya memang yang mendorongnya untuk menulis. karena saya percaya, bahwa menulis itu a powerful communication tool. Eh, melihat tulisannya, saya jadi mikir siapa yang mau mengeditnya?” ujar praktisi Neuro-linguistic programming (NLP) itu.

Lain lagi dengan Adi W. Gunawan. Pria lulusan teknik industri tersebut nyemplung ke dunia tulis-menulis buku karena motivasinya membagikan ilmu yang didapatnya.

“Semula saya hanya ingin berbagi pengetahuan accelerated learning di Amerika Serikat. Saya dan istri miris, melihat belajar di sekolah itu tampaknya susah setengah mati,” ungkapnya.

Kemudian, lahirlah buku Born to be Genius pada Maret 2003. Namun, karena dirasa kurang practical, ia lantas menerbitkan lagi Genius Learning Strategies pada tahun 2010.

Adi lalu memotivasi para peserta talkshow untuk menepis keraguan dalam menulis buku. “Orang yang terbiasa dan suka membaca, pasti menganggap nulis buku itu gampang. Karena suka baca, kita akan mudah menangkap alur bacaannya,” ucapnya.

Di samping itu, menulis pun butuh tujuan. Setiap orang pasti memiliki tujuan menulis berbeda-beda. “Ada yang sekadar memberi informasi, meng-counter buku lain, atau mempersuasi orang. Saya memilih yang terakhir, and it works,” tandasnya.

Kuncinya hanya pada konsistensi. Asalkan konsisten menulis, berikut tahu tujuannya apa, membangun kerangkanya, nanti ide akan banyak berserakan sambil jalan.(wh)