Mentalitas Penonton

Mentalitas Penonton

*) Oleh : Suwandono

Ada beberapa email pembaca yang meminta saya menulis tema motivasi yang berkaitan dengan perhelatan sepak bola dunia. Sempat bingung juga apa yang mau saya tulis. Tema pentingnya kerja sama tim tentu sudah jadi tema klasik. Semua orang juga sudah tau kalau yang namanya tim itu harus bekerja sama dengan baik bila ingin mencapai hasil optimal. Demikian pula dengan tema sportivitas, sudah jadi tema kuno karena semua orang sudah paham.

Lantas, saya coba berkaca pada diri sendiri. Saya amat antusias menonton pertandingan itu, hingga rela mengganjal mata agar tetap bisa menikmati tim-tim hebat bertarung. Saya juga gemar melahap semua pemberitaan media yang berbau Piala Eropa.

Mengapa saya bisa menjadi seperti itu? Setelah merenung, akhirnya saya paham jika semua antusiasme serta kegembiraan itu bersumber dari benak saya yang punya mentalitas penonton.

Maksudnya bagaimana? Saya sudah puas sebagai penonton saja. Demikian pula dengan jutaan orang lainnya di negeri ini. Puas hanya sebagai penonton dan komentator. Tentu bukan komentator yang jual tampang di televisi, melainkan komentator di lingkungannya masing-masing. Saya beradu komentar dengan kawan saya. Anda pun begitu.

Apa ada yang salah? Sebenarnya tak ada yang salah, hanya saja ketika saya dan Anda sudah puas sebagai penonton dan komentator, tak ada niatan serta upaya untuk menjadi seperti yang kita tonton.

Fenomena itu saya coba tarik ke wilayah kehidupan yang lebih luas. Terlalu banyak tontonan kehidupan yang kita lahap setiap hari. Seorang pegawai rendahan tiap hari menonton kehidupan mewah bosnya. Di jalan raya kita bisa melihat tontonan mobil kelas premium yang bersliweran tiap hari. Jalan-jalan ke mall juga disuguhi tontonan pameran property dan barang-barang mewah lainnya. Sebagai pengusaha kelas teri, saya juga amat sering menonton kesuksesan para kolega mendulang prestasi hebat hingga menjadi pengusaha kelas paus.

Seperti halnya fenomena perhelatan sepak bola dunia, di kehidupan nyata terkadang kita sudah cukup puas dengan posisi sebagai penonton dan komentator. Kawan-kawan saya di media terkemuka di Jawa Timur juga amat puas menonton kesuksesan bos besarnya meniti karir dan mendulang rupiah, hingga kini berhasil menyalurkan dharmanya di panggung pengabdian Kementrian BUMN. Kami amat sering berlomba komentar dan memuji semua sepak terjangnya hingga sundul langit. Anehnya, tak pernah saya dengar ucapan Saya ingin dan bertekad meniru kesuksesannya, kalau perlu melampauinya”.

Selanjutnya: Mengapa bisa demikian?