Menkeu: Nilai Ekonomi Bergerak Positif

Menkeu: Nilai Ekonomi Bergerak Positif

Langkah pemerintah menerbitkan paket kebijakan ekonomi pada Agustus 2013, mulai berdampak positif bagi perekonomian nasional. Selain neraca transaksi berjalan yang telah kembali positif, sementara nilai tukar yang terus berfluktuasi kini mulai stabil.

“Kita mengambil beberapa langkah pada Agustus tahun lalu.  Alhamdulillah, empat bulan setelah kombinasi dari policy BI dengan pemerintah dilakukan, tiga bulan terakhir neraca pembayaran kita membukukan surplus,” ujar Menteri Keuangan Chatib Basri di sela  Peluncuran Road Map Tata Kelola Perusahaan di Jakarta, Selasa (4/2/2014).

Langkah pemerintah menerbitkan empat kebijakan ekonomi sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah menghapuskan quantitative easing (QE) dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) pada Mei 2013 hingga implementasi tapering off. Kedua kebijakan ekonomi itu sangat besar dampaknya terhadap negara-negara berkembang.

“Saya tahu bahwa setiap kali langkah yang diberlakukan, pertanyaannya adalah kok rupiah belum kuat. Tentu sebuah policy itu bukan obat gosok di pinggir jalan yang ketika kita gosokkan langsung hangat dan langsung selesai baik penyakit kulit, jantung, reumatik, seketika,” tandas Chatib.

Dia mengungkapkan, kebijakan ekonomi pemerintah bertujuan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan, neraca transaksi berjalan dengan berbagai upaya, misalnya kenaikan PPh dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen, penyesuaian PPnBM barang mewah dan sebagainya.

Sedang BI fokus pada bauran kebijakan, pengetatan moneter termasuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 175 basis poin dari pertengahan tahun lalu. Kebijakan ini dilakukan untuk mengendalikan laju impor serta mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap USD yang sempat terperosok dalam.

Chatib mengatakan, setelah empat bulan kebijakan ekonomi pemerintah dan BI berjalan, neraca perdagangan Indonesia surplus USD 2,3 miliar sepanjang kuartal IV 2013.

Ia menegaskan, neraca pembayaran Indonesia membukukan surplus USD 42 juta  pada Oktober, USD 776  juta di November, dan USD 1,5 miliar di Desember  sehingga totalnya pada kuartal IV 2013 terdapat surplus USD  2,3 miliar.

Chatib mengatakan, isu krusial ke depan adalah mengenai neraca modal mengingat ada kekhawatiran modal akan kembali ke AS. Ke depan investor tak akan lagi melihat sebuah negara dari aset sumber daya alam, pasar besar, buruh murah tapi justru kebijakan pemerintah dan bank sentralnya seperti apa.(wh)