Menjamin Mutu Pelayaran pada Pelaku Usaha

Menjamin Mutu Pelayaran pada Pelaku Usaha

General Manager Pelindo III Joko Noerhudha, Asisten Manager Hukum dan Humas Oscar Yogi Pelindo III dan Chairperson Enciety Busines Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/8/2016).

Pertumbuhan ekonomi Jatim saat ini masih mengalami peningkatan positif seiring pertumbuhan perekonomian Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/8/2016).

Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh dua hal, pertama, peningkatan perkembangan infrastruktur di Surabaya hingga ke Indonesia bagian timur. Kedua, Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) yang saat ini telah didalamkan serta dilebarkan.

Upaya meningkatkan logistik maritim ini dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa. Pasalnya, selama ini kendala yang kita hadapi adalah besarnya biaya operasional atau ongkos angkut yang ada di Jatim.

“Jika saat ini kita dapat menjamin mutu pelayanan kepada para pelaku usaha, maka mereka tidak akan memindahkan usahanya ke wilayah lain di luar Jatim. Selain itu, mereka juga diberikan pengertian jika dengan memiliki satu usaha lebih efektif secara pembiayaan dibandingkan dengan kita memiliki dua atau tiga usaha,” ulas dia.

Ia mengimbuhkan, dengan pembenahan infrastruktur seperti APBS sebagai jalur yang menuju Pelabuhan Tanjung Perak kini telah dibenahi, sehingga para pelaku usaha bakal lebih efektif dan efisien dalam hal pembiayaan operasional.

Sampai saat ini Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya masih menjadi pintu masuk utama jalur perdagangan maritim di Jatim. Kurang lebih ada 90 persen arus barang Jatim yang melalui pelabuhan tersebut

“Saat ini, kapal-kapal dengan feet  besar dapat leluasa berlabuh. Hal tersebut seiring dengan di dalamkan APBS hingga minus 13 meter. ”Jika dulu kedalaman APBS hanya mencapai minus 9 meter, sehingga menyulitkan kapal-kapal besar masuk. Itulah yang menyebabkan kurang efektifnya kegiatan operasional,” papar pakar Statistika ITS Surabaya itu.

Kata dia, sebelumnya para pelaku usaha harus melakukan kegiatan operasional dengan kapal yang lebih kecil dan lebih banyak. “Saat ini, mereka melakukan kegiatan operasionalnya dengan kapal yang lebih besar dengan kapasitas yang lebih besar pula. Dengan kata lain mereka dapat efektif dan efisien dengan menghemat ongkos angkut,” terangnya. (wh)