Menguntungkan, Panen Raya 2020 Bareng Ramadan dan Lebaran

Menguntungkan, Panen Raya 2020 Bareng Ramadan dan Lebaran

Bagus Adhirasa dan Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Ada tiga hal yang memengaruhi keberhasilan panen raya padi dan jagung Jatim pada 2020. Pertama, pergeseran musim hujan yang awalnya terjadi antara November-Desember 2019, berpindah ke Januari-Februari 2020. Namun, hal ini menghadirkan efek berantai positif. Karena nilai tukar tanaman pangan saat ini meningkat hingga 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Pada 2019, nilai indeks tanaman pangan mencapai 101,9 poin. Sedangkan di 2020 nilai indeksnya mencapai 106,43 poin,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (14/2/2020). Hadir dalam acara itu Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur Bagus Adhirasa.

Kresnayana menjelaskan, poin kedua adalah curah hujan di tahun 2020 ini yang diprediksi stabil. Ini membuat para petani tidak khawatir akan terjadinya gagal panen dan lain sebagainya.

Poin ketiga, terang Kresnayana, nilai inflasi saat ini terbilang rendah. Angkanya mencapai 2,7 sampai 2,8 persen. Dengan kata lain, angka-angka tersebut menggambarkan saat ini daya beli masyarakat terbilang stabil.

“Kami optimistis jika berbicara ketersediaan pangan di Jatim pada 2020 ini. Namun, memang seiring dengan bergesernya musim hujan, puncak panen raya kita juga bergeser. Yang awalnya diprediksi bulan Maret-April, bergeser di bulan Apri-Mei,” cetus pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Untuk diketahui, pada April-Mei, memasuki Ramadan. Menurut Kresnayana, hal ini positif karena jarang terjadi ketika musim panen petani mendapatkan pemasukan dan bersamaan momen Ramadan dan Lebaran.

“Jelas sangat menguntungkan bagi para petani. Terlebih, pada 2020 ini ada sekitar 10-13 juta orang yang upah minimum rata-rata naik. Harapannya, ada keseimbangan antara supply and demand saat panen raya 2020 mendatang,” tandas Kresnayana.

“Nah, jika panen kita ini mundur satu bulan, maka Jatim, sebagai daerah produsen produk pangan, harus mencari daerah-daerah yang bukan produsen untuk membantu mencukupi ketersediaan pasokan pangan secara nailsional,” imbuh dia. (wh)