Menghitung Peluang Kaya

 

Menghitung Peluang Kaya

*Suwandono (mr.swand @yahoo. co. id )

“Gaji saya Rp 7 juta, bisa menabung sekitar Rp. 2 juta per bulan, tetapi saya sering ragu dengan keadaan di hari tua nanti,” ucap seorang sahabat yang berkarier di sebuah perusahaan swasta.

Sahabat saya itu umurnya 40 tahun. Anaknya dua, masih duduk di sekolah dasar. Punya rumah tipe 60 dan family car keluaran tahun 2000-an. Bukti bukti jika ia tipe orang yang cukup baik mengatur keuangan. Sebagai orang yang selalu bermain aman, ia tak pernah mengalami masalah keuangan dan problem sosial lainnya. Hanya satu hal yang sering menyelinap dalam benaknya dan cukup menganggu, yakni kesadaran bahwa peluangnya untuk kaya amatlah kecil.

“Keadaanmu tidak akan jauh berbeda dengan hari ini jika tidak ada perubahan pola pengaturan keuangan,” jawab saya ketika ia bertanya prediksi kondisinya di hari tua. Ia membisu, namun alisnya mencuat karena kurang sependapat.

“Bukankah aku telah mengatur keuangan dengan baik? Selalu mengutamakan keamanan dan tidak neko-neko dalam hidup,” ucapnya setelah merenung sesaat.

Apa yang berkecamuk dalam benak sahabat saya itu tentu juga dialami banyak orang. Merasa telah sempurna mengatur keuangan dengan memilih strategi paling aman, yakni menabung. Hal yang sering sengaja dilupakan/dihitung adalah hasil akhir dari strategi itu. Jika nominal tabungannya kecil, otomatis perolehan bunganya juga kecil, dikalikan sisa jangka waktu yang dimiliki maka angkanya tidak serta merta membengkak besar.

Menabung dua juta rupiah per bulan di usia 40 tahun, hasil akhirnya di usia 55 tahun hanya berkisar enam ratus juta rupiah dengan assumsi bunga 6 persen per tahun. Yang patut dipertimbangkan adalah nilai uang sebesar itu 15 tahun yang akan datang dan pengaruh inflasi.

Meski banyak orang memahami strategi menabung adalah cara paling lambat menjadi kaya, faktanya banyak orang tetap mengandalkan strategi itu. Mengapa demikian? Karena mereka dicekam ketakutan dan dibelenggu kesinisan. Takut kehilangan uangnya jika mengambil strategi lain (investasi dan bisnis). Mereka sinis dengan kemampuan diri sendiri, misalnya: saya tidak pandai berbisnis, saya tidak tau caranya berinvestasi, dan sejenisnya.

Ketakutan kehilangan uang adalah lumrah. Orang-orang kaya pun takut. Yang harus difikirkan adalah bagaimana mengatasi ketakutan itu. Jika rasa takut itu terlalu dominan, otak akan berusaha mencari jalan/cara paling aman. Menabung biasanya menjadi pilihan utama. Jika menabung sejak usai muda, memang otomatis akan kaya di usia tua. Namun, hal itu amat sulit dilakukan mengingat gairah muda sering tak mampu menahan godaan kesenangan.

Posisi seperti sahabat saya itu (usia 40an) jika hanya mengandalkan strategi menabung, bisa dipastikan keadaan ekonominya hanya begitu-begitu saja di hari tua. Ia hanya akan menjadi penonton kesuksesan orang lain yang berhasil kaya. Mengapa demikian? Karena ia memilih bermain aman, logika dasar resiko kecil hasil juga kecil akan berlaku untuknya.

Dari banyak nasehat kolega sukses, saya memperoleh pemahaman bahwa jika ingin meraih hasil maksimal (kaya) maka langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengalahkan ketakutan dan mengikis sinisme yang membelenggu diri. Artinya tidak takut mencari terobosan bisnis dan investasi. Tidak sinis dengan kemampuan diri sendiri, tidak memvonis diri tidak bisa sebelum mencoba.

Kita akan dihadapkan pada dua pilihan: takut kehilangan uang lantas bermain aman dengan konsekuensi tidak ada peluang kaya atau berani melakukan investasi dan terobosan bisnis meski ada risiko kehilangan uang.

Jika pilihan itu disodorkan pada saya, pasti saya memilih tidak takut melakukan investasi dan bisnis. Bagi saya, hidup akan lebih berwarna bila memiliki harapan lebih. Menjalani hidup hanya untuk menyongsong kepastian yang kurang menyenangkan adalah cara hidup yang amat membosankan. Hanya cocok untuk golongan penakut.

Bagaimana dengan orang yang berprofesi pegawai seperti sahabat saya itu? Tetap saja pilihan itu berlaku, tinggal memilih salah satunya. Hal yang harus difikirkan adalah meminimalisir resiko kegagalan dalam berinvestasi/bisnis.

Tentu tak harus melakukan langkah radikal, filosofi anak kecil belajar naik sepeda bisa sebagai pelajaran. Belajar menuntun sepeda, manaiki perlahan, miring kanan-kiri, sampai akhirnya benar-benar bisa melaju dengan baik. Terjatuh dari sepeda adalah bagian dari proses belajar. Anak kecil ketika terjatuh justru membuatnya terus belajar manaikinya. Sebaliknya, jika takut jatuh maka ia tidak akan pernah bisa naik sepeda. Sama halnya dengan jika sahabat saya itu takut rugi dalam bisnis, ia tidak akan pernah bisa berinvestasi/bisnis dengan baik. Kuncinya terletak pada bagaimana cara mengatasai ketakutan itu.

Apakah melakukan investasi/bisnis itu sulit? Tidak. Bisa dengan cara amat sederhana disesuaikan kondisi dan potensi diri. Misalnya: ketika harga biji kopi sedang rendah, setelah tanya kanan-kiri dan dianalisa ternyata tak lama lagi harganya naik, merupakan langkah tepat memindahkan sebagian dana tabungan untuk membeli biji kopi. Ditimbun dalam jangka waktu tertentu lalu menjualnya kembali, profit yang diharapkan adalah lebih tinggi dari bunga tabungan.

Melakukan investasi temporer seperti itu bisa disebut langkah cerdas bagi para pegawai yang tidak punya waktu dan sumber daya untuk membangun bisnis riil. Investasi jangka panjang berupa tanah di lokasi prospektif juga pilihan bijak dan tidak butuh banyak ilmu. Pilih lokasi yang baik, beli harga terendah, tahan beberapa tahun dan jual dengan harga pasar yang telah melambung tinggi. Dimana sulitnya? Yang sulit adalah menggerakkan niat ke sana, mengusir ketakutan, sinisme dan kemalasan diri. Bisnis atau investasinya justru tidak sulit.

Ah, itu kan teorinya, prakteknya tetap saja sulit,” jika tiba-tiba pemikiran macam itu menyelinap dalam benak anda saat membaca tulisan ini, berarti anda masih belum bisa lepas dari belenggu kesinisan alias tidak memiliki kepercayaan diri. Sah-sah saja jika Anda tetap ingin bermain super aman dan sudah merasa nyaman dengan keadaan anda saat ini (misal sebagai pegawai dengan kemampuan menabung seperti sahabat saya), itu bagian dari pilihan hidup. (*)

*Pengusaha properti dan penulis novel.