Menghakimi Matematika

Menghakimi Matematika

RR. Imamul Muttakhidah (roro.immamul@gmail.com)

Pertanyaan reflektif ini saya ajukan, mengingat begitu sering saya temui ungkapan lisan maupun tulisan tentang kegagalan “produk” pendidikan matematika.

Pokok bahasan matematika dianggap momok bagi sebagian besar orang, sayangnya negative thinking itu masih diteruskan dengan pernyataan-pernyataan yang seolah menyudutkan dan terkesan menghakimi.

Ibarat sebuah bidang, posisi penulis hanya sebuah titik kecil dari himpunan titik-titik yang memenuhi bidang tersebut. Maka, tulisan ini hanya sebagai katarsis menemukan pikiran positif tentang pendidikan matematika yang menurut sejarah begitu diagungkan sebagai “the great mother of the science” oleh Francis Bacon (1561-1626).

Disisi lain, masih ada bagian (tidak kecil) bangsa ini yang terkesan semakin menjauhi untuk mempelajari apa matematika. Bahkan beberapa teman pemikir masih menganggap matematika sebagai ilmu eksak yang merupakan negasi dari ilmu sosial yang tak pasti.

Pemahaman Komprehensif

Kebenaran merupakan hal teramat penting dalam pengetahuan maupun di luar ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari juga dikenal kebenaran dan ketidakbenaran. Tindakan atau ucapan seseorang sering digolongkan kepada “benar” dan “tidak benar”, meski dalam perkembangan dunia keilmuan global memungkinkan penggolongan itu tidak hanya dikotomik seperti itu.

Sesuatu yang dinilai benar ataupun salah umumnya dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan. Sehingga terjadi timbul wacana bahwa hakim tertinggi dalam menentukan kebenaran tidak bersifat mutlak.

Jika kita mau mempelajari dasar dan hakikat ilmu matematika, maka setidaknya kita akan menemukan apa itu matematika. Beragam pendapat telah dikemukakan para matematikawan.

Sebuah gambaran umum mengenai pengertian matematika juga ditulis Johnson dan Rising (dalam Karso, 1993). Mengemukakan pengertian matematika sebagai pola pikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik.  Matematika itu bahasa, bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol yang padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. Matematika adalah pengetahuan struktur yang terorganisasi, sifat-sifat atau teori-teori itu di anut secara deduktif berdasarkan kepada unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak, aksioma-aksioma, sifat-sifat atau teori-teori yang telah dibuktikan kebenarannya. Matematika adalah ilmu tentang pola, keteraturan pola atau ide.