Menggerakkan “Mesin Kedua” Ekonomi Masyarakat

Menggerakkan “Mesin Kedua” Ekonomi Masyarakat

 

Problem berat bangsa ini salah satunya menyangkut kemandirian. Makanya, dibutuhkan kearifan dan keberpihakan dari pemangku kebijakan dan pihak ketiga untuk membantu menggerakkan roda perekonomian masyarakat lapis bawah lewat usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Berbagai upaya dan inovasi pantas dilakukan. Seperti yang kini mulai tumbuh subur di Surabaya lewat Pahlawan Ekonomi (PE), yakni program pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis komunitas. Hal ini dilakukan dengan menghidupkan “mesin” kedua bagi keluarga di Surabaya. Di mana, dalam melakoni usahanya, mereka menjalani proses produksi tanpa harus selalu meninggalkan rumah.

PE mengadopsi pemikiran peraih Nobel Perdamaian dari Bangladesh Muhammad Yunus (Grameen Bank). Program ini mendorong pengembangan kualitas ekonomi kerakyatan dan mengajak pelaku UMKM membangun kekuatan ekonomi secara gotong royong.

Para pelaku UMKM mendapat dukungan dalam wujud kerjasama melalui kegiatan-kegiatan berusaha di Surabaya, membangun kekuatan pemasaran, membentuk pemodalan, memerkuat akses pasar, membangun pola jaringan dan kemampuan manajemen .

Cikal bakal PE Surabaya dicetuskan tahun 2009. Kini, sudah 999 UMKM yang tergabung dan menjalankan usaha. Sedikitnya, 234 UMKM sudah berkembang dan mempromosikan produknya lewat katalog dan website.

Awalnya, program ini dimulai dari komunitas istri nelayan di Pantai Timur Surabaya. Ketika itu, komunitas ini mengalami masalah harga yang hancur saat panen tiba. Setelah dilakukan pendekatan multistakeholder, yakni Pemerintah Kota Surabaya dan beberapa pihak ketiga, kominitas istri nelayan berhasil meluncurkan fresh food, yakni bakso udang dan es rumput laut. Kemudian mereka meluncurkan grocery food berbahan udang, yakni kripik kentang dan abon rasa manis dan pedas.

Gairah usaha terus meninggi. Para istri nelayan tumbuh dan berkembang menjadi yang terbaik di Jawa Timur. Awal usaha, ada lima perempuan aktif yang terlibat, kini ada 20 perempuan sebagai anggota aktif dan 40 anggota potensial, serta ratusan produk yang sudah terjual di berbagai pasar modern dan tradisional.

Ada seorang ibu rumah tangga, awalnya berbisnis clay. Kemudian dalam perkembangannya, ia belajar dari awal dalam membuat roti. Setelah mencoba dengan segala keterbatasan, kini ia berhasil membuat roti rasanya tak kalah dengan roti merek terkenal dan tersedia di belasan gerai. Sang ibu juga berhasil membuka lapangan usaha baru dengan memerkejakan puluhan orang yang mayoritas tinggal satu permukiman.

Juga ibu–ibu satu RW yang mulai dari awal sekali. Kini bisa mendapat penghasilan setelah sukses menjual kerajinan dan sulam pita. Dari puluhan anggotanya kini sudah terbagi sesuai dengan kemampuan dan ketrampilannya. Ada yang menjadi penyulam, perajin, dan penjahit. Produk–produknya sudah dipesan dari berbagai daerah di Indonesia. Selalu mengalir seolah tanpa henti.

Masih ada lagi. Berbekal hasil pelatihan, sekelompok ibu–ibu di wilayah yang padat penduduk bisa memproduksi aneka sabun untuk keperluan rumah tangga. Modal uangnya sekadarnya. Namun modal semangatnya sungguh luar biasa. Kini, cakupan pemasarannya pun sudah menyebar dan berkelanjutan.

Para perempuan Surabaya tersebut diharapkan makin meneguhkan jati dirinya yang mandiri, dan mampu melakukan aktivitas-aktivitas produktif namun tidak meninggalkan perannya dalam keluarga. Ini tentunya juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi keluarga lebih baik.

Sesuai semangatnya, bekal berwirausaha tak cukup hanya diturunkan, tapi juga ditularkan. Pendekatan komunitas cukup efektif untuk mendorong para perempuan agar berjiwa mandiri. Apalagi di tengah impitan pemenuhan kebutuhan keluarga menyusul melangitnya harga barang akibat kenaikan harga BBM. Memulai langkah kecil dengan berwirausaha merupakan pilihan positif di tengah krisis kepercayaan bangsa ini.(wh)