Mengenal Super Tuesday, Babak Penentu Kandidat Presiden AS

calon presiden as

Perhatian publik dunia saat ini mengarah ke Amerika Serikat. Ini seiring dengan digelarnya pemilu pendahuluan dan kaukus oleh dua  partai di negara tersebut, Demokrat dan Republik. Hari ini, Rabu  (3/2/2016), siapa  kandidat yang berpeluang besar bakal diusung menjadi Calon Presiden bakal mulai ketahuan. Ini seiring dengan masuknya pemilihan pendahuluan itu ke Super Tuesday. Yakni calon presiden dari kubu Partai Demokrat dan Partai Republik akan memperebutkan banyak suara delegasi dari total 12 negara bagian dalam satu hari. “A lot of states, a lot of points,” kata Wakil Dubes AS di Indonesia, Brian McFeeters dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Selasa (1/3/2016)

Menurut data yang dihimpunnya, dari 12 negara bagian tersebut, Texas merupakan negara bagian yang memiliki jumlah suara terbanyak, yakni 155 delegasi.

Brian menambahkan jika ditotal, dalam Super Tuesday wakil Demokrat bisa mendapatkan suara dari 1.004 delegasi, sementara Republik 595 delegasi. Di 12 negara bagian tersebut Demokrat memiliki 712 delegasi super (suara dari mantan presiden, anggota kongres, dan pejabat pemerintah) sementara Republik tidak memiliki delegasi super.

Untuk memastikan kemenangan, seorang kandidat partai Demokrat harus mengumpulkan suara 2.383 delegasi sementara Republik 1.237 delegasi dalam pemilihan pendahuluan yang digelar pada Februari hingga Juni mendatang.

Saat ini, di kubu Demokrat Hillary Clinton unggul dengan suara 505 delegasi dan Bernie Sanders di posisi kedua dengan raihan suara 71 delegasi. Sementara kubu Republik, Donald Trump masih unggul dengan suara 82 delegasi, disusul Ted Cruz 17 delegasi, dan Marco Rubio 16 delegasi.

Super Tuesday akan mengurangi tiga hingga lima kandidat bakal calon presiden Amerika Serikat yang masih bertarung sekarang ini.

Menurut Analis Politik Kedubes AS di Indonesia Siri Nair, kedua partai sedang berupaya keras untuk mencari kandidat yang bisa menarik suara rakyat. Dia menilai Republik lebih bergerak ke sayap kanan karena ingin menarik suara konservatif. Sementara itu, Demokrat akan bergerak lebih ke kiri. “Tetapi pada saatnya, mereka akan kembali lebih moderat,” katanya.

Sementara itu saat disinggung tentang Donald Trump yang menjadi pusat perhatian karena komentar-komentarnya yang kontroversial, McFeerters mengutip pernyataan dari Presiden AS Barack Obama dan Menlu John Kerry bahwa Trump tidak mewakili nilai-nilai yang ada di AS.“Melarang muslim ataupun imigran bukan sesuatu yang terjadi dalam hukum kami. Jadi (kampanye Trump) itu lebih dari retorika, bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan,” ucap dia.

McFeeters menilai, Trump mengambil kesempatan dari rasa frustasi masyarakat AS terhadap sistem. Pasalnya rakyat yang tidak percaya sistem kemudian melihatnya sebagai seseorang yang bisa memperjuangkan suaranya.

Setiap empat tahun, pemilihan presiden Amerika serikat digelar pada Selasa pertama bulan November. Sebelum pemilihan umum ini, negara-negara bagian mengadakan pemilihan pendahuluan untuk memilih calon-calon partai. Setelah itu, disusul dengan konvensi-konvensi nasional.

Pada 2016 ini, Pemilihan Umum akan dilaksanakan pada 8 November. Konvensi Partai Demokrat dijadwalkan berlangsung selama seminggu dari 25 Juli di Philadelphia. Sementara konvensi Partai Republik berlangsung pada 18-21 Juli di Cleveland. (cnn/bst)