Mengelola Gap Antargenerasi

Mengelola Gap Antargerasi
Kresnayana Yahya

Zaman yang terus berubah melahirkan generasi yang berbeda dan membuat berbagai macam karakter dari generasi ke generasi. Zaman sekarang yang tertinggi hingga mencapai 65 persen gen X dan Y. Yang dimaksud gen X adalah generasi yang belum mengenal kegunaan teknologi, sedangkan gen Y tumbuh di masa ekonomi yang lebih baik dari zaman sebelumnya.

Sedangkan gen Z, berdasarkan data yang ada, hanya mencakup 20 persen saja. Gen Z sendiri adalah generasi yang mengenal karakteristik teknologi.

Periode yang kini berumur 25 tahun, kehidupan generasi yang sudah enak. Ada gambaran bila generasi muda sekarang adalah idealis, yaitu karakter atau kelompok tenaga kerja sudah lebih baik tapi masih rentan. Sebagian lagi masih gagap teknologi (gaptek) dan pengetahuan sudah usang. Kelompok inilah yang sangat rentan terhadap perubahan.

Untuk gen Z sendiri adalah kelompok yang mudah dapat uang. Bikin software langsung dapat duit. Dan orang tua sendiri mulai kini kesulitan untuk menghadapi generasi muda gen Z. Ini dikarenakan generasi muda orientasi pendidikan yang sudah berubah. Contohnya, dulu ilmu sastra di perkuliahan dianggap lebih tinggi daripada ilmu ekonomi, namun kenyataannya sekarang terbalik.

Anak muda atau generasi Z sekarang berkumpulnya lebih banyak virtual seperti melalui facebook dan WhatsApp. Beda dengan zaman X dan Y dulu yang suka berkumpul untuk berorganisasi.

Dengan kenyataan ini akhirnya orientasi hidup bergeser. Sekarang hitungannya sudah berubah drastis. Dulu orang kerja cari uang untuk keluarga dan sosial atau orang lain. Sekarang kerja mereka untuk diri sendiri, yaitu ego dan eco.

Diharapkan gen X dan gen Y mengetahui gen Z agar harus ada kesetaraan generasi. Contohnya gen X dan Y, walau mempunyai gadget bagus hanya dipakai untuk sms dan telepon, namun untuk gen Z bermacam-macam. Gadget gen Z biasanya dipakai untuk mencari duit di facebook, Line, WhatsApp dan lainnya.

Dengan kenyataan inilah, negara Indonesia harus merancang ulang dunia pendidikan. Guru 20 tahun yang bikin generati terbelah dan dianggap tidak mengetahui zaman sekarang. Dan banyak murid yang menganggap gurunya jadul. Ini tidak boleh ada lagi. Seorang pendidik harus terus belajar sesuai kemajuan zaman. (wh)