Mendidik Masyarakat Cerdas Finansial

Mendidik Masyarakat Cerdas Finansial

Optimisme pantas diapungkan untuk melihat pasar perekonomian dan bursa saham Indonesia. Pada awal tahun ini, perekonomian kita naik 21 persen dibanding Januari 2014. Tidak hanya Indonesia, perekonomian di Amerika juga semakin membaik. Begitu juga yang terjadi negara-negara di Eropa.

Dengan perekonomian yang semakin membaik, orang Indonesia harus bisa diajak ke pasar bursa. Jangan hanya main saldo dan deposito. Tercatat, hingga sekarang hanya ada 100 ribu orang Indonesia yang ke bursa saham.

Kita harus mendidik masyarakat cerdas finansial. Sepertiga pendapatan masyarakat harus masuk ke saham dan sisanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena daya beli untuk pekerja yang mempunyai bayaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) salah satu tugasnya yang berat adalah mengendalikan keuangannya sendiri.

Para pekerja Indonesia harus belanja yang rasional. Misalnya, UMK Rp 2,7 juta dan harus bisa menabung Rp 700 ribu per bulan di bank. Dengan memasukkan uang itu ke bank akan dapat membantu perekonomian di negara ini.

Bila semua bisa dikendalikan dan di-support oleh pemerintah daerahnya dengan mengatur biaya agar tidak melonjak seenaknya, maka banyak yang bisa dilakukan.

Pilihlah gaya hidup sebaiknya yang wajar-wajar saja. Ini agar kebutuhan sandang relatif stabil. Jangan menuruti teman atau pamer seperti memilih handphone atau gadget untuk alat telekomunikasi dengan biaya yang tinggi sekali.

Sejak awal, masyarakat harus bisa bagaimana caranya untuk mencintai rupiah. Ada faktor yang tidak bisa kita kendalikan. Seperti perdagangan luar negeri memakai dolar karena stabil.

Namun sudah ada anjuran seperti di pelabuhan di Indonesia biayanya memakai rupiah. Services harus rupiah. Airlines dan pelabuhan begitu juga. Dengan cara seperti itu, maka rupiah akan menguat juga karena ketergantungan dolar Amerika tidak akan tinggi.

Juga kesadaran masyarakat untuk membayar pajak sangat penting bagi pembangunan negara ini. Investasikan uang Anda ke bank, seperti deposito dan saham. (*)