Mencari Nafkah seperti Monyet

 

Mencari Nafkah seperti Monyet

*Suwandono  (mr.swand @yahoo. co.id )

Saya yakin, kita akan marah atau tidak suka jika cara kita bekerja atau berbisnis disamakan dengan cara monyet mencari makan. Namun, benarkah cara kita bekerja/berbisnis tidak sama dengan monyet?

Dalam sebuah buku motivasi, saya pernah membaca kisah tentang salah satu suku di Afrika yang gemar mengonsumsi daging monyet. Orang-orang dari suku itu hampir tiap hari berburu monyet, cara mereka pun bermacam-macam. Ada yang memakai panah, ada pula yang menggunakan jerat tali. Namun, ada satu cara berburu yang paling unik, yakni menangkap monyet dengan menggunakan benda semacam kendi yang terbuat dari tembaga atau besi. Kendi itu diikat dengan tali yang tak terlalu panjang dan ditambatkan pada sebuah pohon atau batu besar. Lantas, kendi itu diisi dengan kacang, sebagian kacang ditaruh di luar kendi sebagai umpan. Selanjutnya kendi itu ditinggal dan akan dilihat hasilnya esok hari.

Jika ada monyet yang melintas di dekat kendi dan melihat kacang berserakan, maka setelah memastikan ke kanan kiri bahwa keadaannya aman, si monyet akanmendekati kendi dan mulai melahap kacang umpan. Ketika kacang di luar kendi habis, ia mulai melirik kacang yang ada di dalam kendi. Lalu ia memasukkan tangannya ke dalam kendi untuk mengambil tumpukan kacang. Karena monyet itu menggenggam kacang, tangannya tidak bisa ditarik keluar dari mulut kendi.

Namun, ia juga tidak mau melepaskan kacang yang sudah berada dalam genggamannya. Akibatnya, ia tertahan di tempat itu dengan tangan tetap di dalam kendi, ia tidak bisa pergi karena tak ingin kacang dalam genggamannya terlepas. Bahkan sampai sang pemburu datang, tetap saja monyet itu tak mau melepas genggamannya agar bisa lari. Lantas, kapan monyet itu mau melepaskan kacangnya? Ketika ia mati disembelih.

Kisah monyet tersebut amat relevan untuk menggambarkan keadaan dan perilaku kita ketika dihadapkan pada situasi pekerjaan atau bisnis yang sebenarnya telah disadari tidak memberi peluang untuk mencapai tujuan hidup sejahtera/kaya.

Banyak dari kita yang sudah tahu dan paham bahwa yang dikerjakan sekarang tidak bisa membantu mencapai apa yang kita inginkan. Namun, karena takut kehilangan “kacang” maka kita tak mau melepas pekerjaan itu, tidak mau beralih profesi, tidak berani mencoba pekerjaan/bisnis baru. Sampai akhirnya kita “disembelih” dengan cara dipecat, dipensiun atau jatuh bangkrut ditelan perubahan zaman.

Contoh sederhana yang relevan dengan kisah itu adalah seorang pegawai dengan pangkat sedang-sedang saja, gajinya hanya cukup untuk membayar angsuran motor dan hidup sederhana bersama anak isteri. Bila ada bonus dari perusahaan, ia baru bisa sedikit menyisihkan dana untuk ditabung.

Sebagai manusia normal, pegawai itu tentu memiliki mimpi/keinginan suatu saat nanti mampu membeli mobil Mercy seri terbaru, membangun rumah mewah dan menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Sebaliknya, ia juga paham dan sadar jika pekerjaan yang ditekuninya tidak mungkin dapat mewujudkan impian itu. Namun, ia tidak berani untuk melepas “genggamannya”, walau sebenarnya genggaman/pekerjaannya itu amat membelenggunya.

Lantas, apa yang harus dilakukan agar kita tidak terjebak seperti monyet itu?

Beberapa kali saya bertanya pada orang-orang hebat dan belajar dari beberapa buku untuk menemukan jawabannya. Mengapa saya sangat bersemangat untuk bisa menemukan jawabannya? Jujur saja, terkadang saya juga merasa masih seperti monyet itu. Dari sekian banyak pendapat dan referensi, saya tertarik menyimpulkan dua jawaban sebagai jalan keluar agar saya dan mungkin juga anda tidak menjadi seperti monyet.

Pertama, cari bidang pekerjaan/bisnis yang menjanjikan sesuatu yang luar biasa.

Jika kita telah menargetkan pada usia tertentu bisa hidup layak dalam arti mempunyai tabungan/asset yang cukup, gaya hidup menyenangkan dan jaminan kesejahteraan keluarga terpenuhi, maka kita harus berusaha mencari bidang pekerjaan/bisnis itu.

Setelah ditemukan, sembari tetap menjalani pekerjaan yang telah ditekuni, kita harus mulai mempersiapkan diri dan mengumpulkan semua sumber daya (kapital, skill, informasi & koneksi) yang nantinya akan digunakan untuk memulai pekerjaan/bisnis baru itu.

Jika saatnya telah tiba, kita harus berani beralih profesi atau melepas “genggaman kacang” untuk berlari dan memulai pekerjaan/bisnis yang baru, yang lebih menjanjikan. Dalam situasi seperti ini, kita hanya punya dua pilihan, tetap menjadi seperti monyet dan menunggu disembelih atau berani melepas “genggaman” dan berlari mencari gunung kacang baru.

Dalam konteks ini, tidaklah salah jika kita mengingat pepatah yang berbunyi “jangan melepas punai di tangan untuk mengejar burung terbang yang belum tentu dapat ditangkap”. Terjemahan gampangnya kurang lebih “berhati-hatilah melepas pekerjaan/usaha yang telah ada, sebelum yakin mendapat pekerjaan/usaha baru yang lebih besar”. Namun, jangan karena mengatasnamakan kehati-hatian lantas keberanian kita surut dan tak berani melangkah. Jika hal itu yang terjadi, maka seumur hidup kita akan menjadi seperti monyet.

Kedua, sumber pendapatan lebih dari satu. Ini adalah langkah aman yang dipilih banyak orang, tidak meninggalkan pekerjaan/bisnis yang lama, tetapi berusaha menambah sumber pendapatan baru. Saya yakin, semua orang ingin memiliki sumber pendapatan lebih dari satu. Namun, ibarat sebuah pohon, sumber pendapatan pun selalu harus ada “batang” utamanya. Sebelum mengembangkan sumber pendapatan baru, kita harus memastikan batang utamanya cukup kuat untuk mendukung ranting-ranting baru.

Saya memiliki seorang kawan yang amat berambisi membuka usaha baru sebagai upaya mewujudkan keinginan memperoleh sumber pendapatan lebih dari satu. Karena ambisinya kelewat besar, ia tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa menyadari bahwa bidang usaha baru itu belum benar-benar dikuasai seluk beluknya. Apa yang terjadi kemudian? Usaha baru itu rugi dan justru menggerogoti sumber pendapatan utamanya.

Kasus yang dialami kawan saya itu jangan sampai terulang kembali pada saya dan Anda, sebelum memutuskan membuka usaha/pekerjaan baru maka harus yakin bahwa pengetahuan atas bidang usaha/pekerjaan itu benar-benar telah dikuasai.(*)

*Pengusaha properti dan penulis novel.