Mencacah Penduduk, Mencatat Indonesia

Mencacah Penduduk, Mencatat Indonesia

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult.

Dalam perjalanan menuju bandara Halim Perdanakusuma, saya sempat berkelakar dengan rekan, cerita tentang Dilan dan Milea. Sebuah sineas kisah roman anak muda, diangkat dari novel cinta. Berlatar tahun 1990an. Zaman yang menarik, bukan hanya untuk dikenang. Namun juga baseline puncaknya era konvensional. Televisi, radio dan koran menjadi sumber utama berita dan hiburan.

Sensus penduduk 1990 mencatat jumlah penduduk Indonesia lebih dari 179 juta. BPS (saat itu disebut Biro Pusat Statistik) melakukan cara pencacahan kombinasi de jure, dicacah di mana mereka tinggal secara resmi, sedangkan untuk yang tidak bertempat tinggal tetap dicacah dengan cara de facto.

Komunikasi dominan masih andalkan telepon rumah, wartel dan telepon umum. Pengiriman kabar dan uang melalui pos dan wesel. Bentuk interaksi yang sedemikian formal dan berkesan. Bisnis juga menggunakan media mainstream ini sebagai alat utama mempengaruhi pelanggan. Pengalaman pelanggan (experience) disentuh melalui media fisik yang mudah dikendalikan (managed touchpoint), media elektronik, print dan outdoor.

Hari ini, tahun 2020, kita berada pada era di mana pelanggan sebagai pusat energi perubahan. Pelanggan yang puas akan layanan memiliki energi dan antusias tinggi untuk menceritakan dan merekomendasikan. Pelanggan hari ini tidak harus menuliskan pengalamannya melalui secarik kertas dan dikirimkan melalui pos atau koran. Pelanggan mampu mengelola medianya sendiri. Media konvensional tidak mati, dan masih akan tetap menemukan segmennya. Namun digital telah merubah sebuah perilaku komunikasi dan interaksi. Pengalaman pelanggan bukan hanya disentuh melalui media fisik, namun juga digital (digital touchpoints).

Pun, BPS (Badan Pusat Statistik), mulai 15 Februari 2020 akan memulai hal baru. Melakukan kombinasi pencatatan penduduk yang terintegrasi, masyarakat diberikan kesempatan mengisi secara online dan kunjungan ke bangunan sensus. Sebuah transformasi digital.

Sensus 2010 mencatat, penduduk sudah meningkat menjadi lebih dari 237 juta. Atau sudah bertambah 10 (sepuluh) kali jumlah penduduk Singapore dalam kurun waktu 20 tahun. Bukan hanya jumlah, namun strukturnya juga terus bergerak. Membuat banyak kebijakan bisa berubah.

Hasil sensus penduduk 2020 tentu tak sabar dinantikan. Bagaimana perubahannya dalam sepuluh tahun terakhir. Kesadaran akan pentingnya data juga makin meningkat. Hasil sensus sangat berpengaruh pada komposisi usia, pendidikan dan pekerjaan penduduk Indonesia. Struktur yang menjadi landasan perencanaan.

Bersiap untuk menghadapi bergesernya generasi milineal dan masuknya generasi post milineal yang makin mapan. Makin kuatnya generasi digital native menjadi bagian perubahan perilaku. Bersiap pula menunggu aksi pemerintah, menjadikan hasil sensus sebagai panduan. Menuntut perencanaan strategis yang makin menyejahterakan.

Pun, bagi bisnis dan industri menyambut hasil sensus sebagai sebuah peluang, makin kuat berinovasi, menyajikan layanan sesuai dengan segmen dan perilakunya.

Moga kerja statistik sepuluh tahunan ini berjalan lancar, sesuai harapan. Selamat mencatat Indonesia.

Salam.(*)