Menakar Jalan Rekonsiliasi PSSI

Menakar Jalan Rekonsiliasi PSSI

Setidaknya, ada dua pilihan yang terbentang. Pertama,  rekonsiliasi dengan syarat.  Rekonsiliasi model ini, mengharuskan proses penyatuan kembali bisa terjadi dengan syarat-syarat tertentu.  Misalnya, Persebaya bisa kembali diterima PSSI tapi dengan syarat harus bermain dari level terbawah (Jawa Pos, 6 /8/2016).  Rekonsiliasi ini mendasarkan pada konsep  reward and punishment. Persebaya dan enam klub lainnya, karena dianggap miliki ‘dosa’ di masa lalu, harus menerima punishment terlebih dulu sebelum benar-benar diterima.

Federasi coba memperkuat kapabilitas simbolik lewat langkah seperti ini. Memberi efek  jera dan peringatan bagi siapapun yang coba melakukan hal serupa. Hanya saja, rekonsiliasi model seperti ini mengharuskan sebuah institusi yang kuat dan tanpa cacat. Sehingga tak ada celah bagi pihak ‘terhukum’ untuk lakukan perlawanan. Jika tidak, ini hanya akan menutup satu masalah dan menggali lubang masalah berikutnya. Pertanyaannya, sudahkah PSSI dalam kasus ini  melangkah lurus dan tanpa cacat?  Ehm, rasanya publik bola tahu seperti apa wajah federasi selama ini.

Nah, ketika  gagal  menampilkan diri sebagai insitusi yang bersih, konsisten dalam penegakan rule of law, hemat saya, jalan terbaik bagi federasi adalah melakukan rekonsiliasi menyeluruh. Sudahi upaya mengorek-ngorek dosa masa lalu. Ini memang mudah dikatakan tapi butuh keberanian dan kebesaran hati untuk mengimplementasikan. Selalu saja, muncul bisikan dan godaan untuk menengok ke belakang.  Tapi, begitu kita terlena, maka percayalah, kita akan kembali ke kubangan masalah sama yang tiada akhirnya.

Yakini, tak akan ada habisnya jika kita terus  tersandera dalan  urusan masa lalu.  Setiap pihak,  pasti  memiliki argumen dan dasar tersendiri. Nggak bakal selesai. Bagi jalan rekonsiliasi, langkah ini justru membebani. Malah, makin menjauhkan variabel variabel titik temu yang harusnya dibangun sebanyak mungkin untuk menguatkan rekonsiliasi.  So, jalan mana yang akan kau ambil PSSI? (*)

*Ram Surahman, praktisi bola dan editor enciety.co