Memulai Bisnis Tanpa Modal

Memulai Bisnis Tanpa Modal
Foto: Peserta Start Surabaya mission 2 mengawali pekan kedua di masa inkubasi di Spazio, Selasa (31/3/2015).

Bagi kebanyakan masyarakat, menjadi pengusaha adalah sebuah impian. Hanya saja persoalan klasik yang sering ditemui adalah bagaimana mendapatkan modal? Nah, di masa inkubasi Start Surabaya, peserta justru dibocori untuk memulai bisnis tanpa modal, bagaimana caranya?

Technical Mentor Start Surabaya, Johannes Candra, adalah ahli di bidang ini. Menurutnya menyarankan peserta Start Surabaya, sebelum memulai bisnis diperlukan sebuah ide. Membuat gagasan yang bernilai dan unik.

“Hari ini kita mengevaluasi anak-anak Start Surabaya. Salah satu yang terpenting adalah value unik dari ide mereka. Risiko ide mereka dan beberapa percobaan kerjasama dengan perusahan-perusahaan yang sudah besar,” katanya di Spazio, Surabaya, Selasa (31/3/2015).

Ide yang bagus inilah yang dianggap sebagai pria yang biasa disapa Koh Jo ini sebagai langkah awal untuk memulai bisnis tanpa modal. Padahal semua bisnis pasti membutuhkan modal. Entah modal telefon, uang, tenaga, pikiran, atau modal berbicara, dan lain-lain.

“Sebagai seorang bisnis kita harus banyak belajar. Karena dengan banyak perubahan yang terjadi kita harus banyak belajar dengan banyak perubahan. Kedua adalah aset aplikasi adalah kantor, dan sumber pemasukan yang lebih dari satu,” jlentrehnya.

Prinsipnya adalah belajar tentang bahasa, belajar tentang waktu, belajar tentang budaya, dan belajar tentang sosial. Artinya sebelum melakukan investasi lebih baik terlebih dahulu belajar tetang saham. Karena saham pasti mengalami naik dan turun dan tidak menggunakan emosi sebagai acuan.

“Belajar telebih dahulu adalah ilmunya untuk memulai usaha sebagai kendaraan untuk menjadi kaya. Mau kaya melalaui bisnis maka harus belajar tentang bisnis. Jika mau kaya di bidang properti maka harus belajar banyak tentang properti,” bebernya.

Koh jo juga bilang kalau belajar itu ada empat cara. Yaitu belajar dari pengalaman, belajar dengan cara merenung dengan menyimpulkan, ketiga belajar secara langsung dengan adanya mentor, dan yang terakhir adalah belajar dari buku dan media.

“Setidaknya 80 persen waktu harus kita luangkan untuk belajar sebuah bidang yang anda inginkan. Kemduian 20 persen waktu lainnya digunakan untuk belajar di bidang yang tidak kita sukai. Itu kuncinya,” imbuh Johanes. (wh)