Mempersiapkan Masyarakat Hadapi Smart Society 5.0

Mempersiapkan Masyarakat Hadapi Smart Society 5.0

Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Dunia sekarang sedang mencari arah baru menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Contohnya, beberapa tahun lalu di Eropa, diperkenalkan revolusi industri 4.0. Sedangkan di Jepang, pada tahun 2016 lalu, diperkenalkan smart society 5.0.

Dalam konsep tersebut, Jepang menggambarkan masyarakat lahir dari kebutuhan makanan. Untuk dapat bertahan, manusia mulai hidup berkelompok dan berburu bersama.

“Seiring berjalannya waktu, manusia mulai menemukan sistem bercocok tanam dan berdagang. Lantas, setelah ditemukannya listrik, manusia mulai berkembang dan mengenal industry,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Surabaya Surabaya, Jumat (1/2/2019)..

Setelah ditemukannya internet, terang dia, masyarakat mulai berevolusi yang dikenal dengan istilah society information 4.0. Dalam tahapan ini, kita mengenal Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Belakangan dengan adanya AI ini kita mengenal istilah smart city. Di mana dalam satu kota masyarakatnya dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan baik,” papar pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Lantas, setelah melalui tahapan tersebut, masyarakat mulai berkembang dan kini dikenal dengan istilah smart society 5.0.

“Nah, sekarang bisa kita lihat apa yang sekarang sedang dilakukan Kota Surabaya. Bu Risma sebagai wali kota mulai mempersiapkan hal tersebut. Jadi, jika orang yang tidak tahu kenapa banyak taman di Surabaya, kenapa pedestrian jalan itu sekarang dibuat makin lebar. Nah, itu karena kita sedang mempersiapkan hal ini,” ulas Kresnayana.

Dalam konsep smart society 5.0, sambung Kresnayana, masyarakat dipersiapkan dan dibantu berkembang sesuai talenta yang dimiliki.

“Semua orang punya kemampuan sendiri-sendiri. Jadi kita tidak boleh menyeragamkan kemampuan mereka.Ssemua harus bisa main musik, semua harus bisa satu kemampuan. Hal itu sudah tidak bisa lagi dilakukan ke depan,” tegasnya dosesn statistika ITS Surabaya itu.

Ke depan, menurut Kresnayana, jika manusia telah menemukan kelebihan kemampuannya, keberadaan AI sangat membantu manusia melakukan tugas-tugasnya, bukan sebaliknya.

“Jadi manusia ke depan menjadi subjek, bukan malah menjadi objek,” kata dia.

Ketika ditanya apakah masyarakat Indonesia nantinya dapat mengarah pada konsep tersebut, Kresnayana mengatakan saat ini pemerintah lewat cara membangun segala fasilitas sedang mempersiapkan masyarakat mengarah ke kemajuan smart society 5.0.

“Ini merupakan peradaban baru yang lebih maju dan kita harus menghadapinya. Nah, jika kita masih hidup dengan menggunakan aturan atau peradaban tahun 1960, ya kita besok hidup sendirian. Jadi ayo mulai persiapkan diri mulai sekarang,” pungkas Kresnayana. (wh)