Memerangi Kemiskinan

 

Memerangi Kemiskinan

*Tri Rismaharini               

“Kemiskinan itu akan mendekatkan diri kepada kekufuran.”

Sepenggal hadis itu menancap betul di benak saya. Ketika suatu kaum didera kemiskinan, peluang kekufuran bakal menganga. Itu sebabnya, saya selalu berupaya memerangi kemiskinan. Miskin harga, miskin pemikiran, miskin batin.

Kemiskinan harus dilawan. Tentunya dengan kerja keras dan kerja cerdas. Kemiskinan tak bisa diubah tanpa niatan, juga upaya kreatif untuk memperbaiki. Banyak peluang keberhasilan bisa dilakukan jika kita mau dan bersungguh-sungguh. Itu keniscayaan. Sudah tak terhitung berapa banyak orang berhasil mengentaskan diri dari jeratan kemiskinan.

Saya bisa menceritakan pengalaman Bu Farida. Ia warga Surabaya. Umurnya sudah hampir senja. Waktu itu, awal berjumpa dengannya, ia nyaris cukup cakap dalam urusan jahit-menjahit. Dibandingkan dengan saya waktunya, ia masih kalah. Bikin jahitan lurus saja begitu, Bu Farida belum bisa.

Akan tetapi, rasa ingin tahunya dan niatan belajar sangat tinggi. Ia lantas rajin ikut pelatihan menjahit di Bapemas. Ia juga mendapat bantuan mesin jahit. Ia mencoba dan terus mencoba. Hingga suatu saat saya bertemu lagi dengannya. Kali ini, saya surprise.  Ia jauh lebh terampil menjahit ketimbang saya.

Saya katakan saat itu, kalau jumlah orang yang memakai busaha muslim, jilbab, saban waktu makin banyak. Jika kita jeli, tentu peluang ini sangat terbuka direbut. Pasarnya yang besar. Kebutuhan akan model dan desain juga terus berkembang.

Rupanya, Bu Farida mengamini penyataan saya. Lamat-lamat usaha konveksi yang dirintisnya berkembang bagus. Dia juga sudah punya beberapa karyawan. Jumlah mesin jahitnya bertambah dan lebih modern. Sementara mesin jahit sumbangan Bapemas masih disimpan, meski tidak dipakai. Ia sengaja ‘memuseumkan’ mesin jahit bantuan Bapemas itu. Sebagai pengingat bila memulai dari nol dengan bantuan mesin itu. Saya sungguh terenyuh mengetahuinya.

Pengalaman lain juga Bu Katiyam dan Bu Ja’I, warga Surabaya lainnya. Bu Katiyam usianya 62 tahun, sedangkan Bu Ja’i sudah 66 tahun. Keduanya ikut Pahlawan Ekonomi Surabaya, asosiasi usaha mikro kecil yang mewadahi kaum perempuan.

Bu Katiyam seorang penggerak sosial di lingkungan kampung eks lokalisasi Dupak Bangunsari. Dia berjasa ngopyak-ngopyak warga, pengusaha, dan mbak-mbak eks PSK di sekitarnya untuk membangun Dupak menjadi kampung UKM. Ada usaha batik, keset, kerajinan eceng gondok. Barangnya sekarang sudah ke mana-mana, padahal Dupak baru saya tutup tahun 2013. Saya pesan 1.000 lembar, baru jadi 300. Karena dikerjakan tangan, jadinya pun butuh waktu lama.

Pun dengan Bu Ja’i. Ia adalah sosok ibu yang ndak kenal lelah. Dulu ceritanya sewaktu ingin belajar memasak ke pemkot, oleh Bapemas malah ditolak karena usianya sudah terlalu tua. Ketika ada kesempatan bertemu langsung dengan saya, Bu Ja’i mengadu langsung. Saya minta Bapemas melayani keinginannya belajar membuat kue Lapis Surabaya.

Sekarang saya dengar Lapis Surabaya buatannya sudah masuk Citilink. Jadi, siapa ngomong orang tua tidak bisa? Bu Ja’i ini buktinya. Kalau kita yakin bisa, semua pasti bisa. Yang ada hanya dua; mau atau tidak.

Saya tahu di masyarakat berkembang opini umum kalau yang bisa berdagang hanya etnis tertentu. Siapa bilang begitu? Siapa bilang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengerjakan suatu keahlian tertentu. Itu namanya menyalahi takdir. Kita bisa jika kita berusaha.

Saya sendiri dulu tidak pernah membayangkan menjadi wali kota. Saya mbatin, “iso gak aku iki”. Akhirnya ya saya belajar. Karena kalau kita ndak mau belajar, kita ndak akan pernah maju. Sebab orang yang sombong kan, dibenci Tuhan. Saya pun nggak pernah gengsi kemana-mana bawa buku. Walaupun sudah ibu-ibu, jangan pernah berhenti belajar.

Tahun depan, kita akan memasuki era ASEAN Economic Community 2015 atau AFTA. Itu adalah tahun tantangan buat kita. Tetapi juga bisa menjadi tahun anugerah kalau kita siap. Kalau lihat wajah ibu-ibu Pahlawan Ekonomi, saya pun jadi optimistis. Kita harus merebutnya. Jangan malu. Mari kita berjuang. (*)

*Wali Kota Surabaya