Membangun Desa

7 Pola Kembangkan Pendidikan Sehat

 

Membangun Desa

Oleh KRESNAYANA YAHYA    

Pesta demokrasi pemilihan umum untuk memilih Presiden 2014-2019 usai sudah. Kini, bangsa Indonesia disadarkan untuk segera kembali bekerja guna membangun negara ini.

Kali ini, saya ingin mengingatkan kembali janji para calon presiden (capres) saat memaparkan visi dan misinya. Dimana, salah satu agenda penting yang mendesak adalah membangun desa. Ya, pembangunan desa kini tidak boleh ditunda lagi.

Desa memang perlu penanganan serius. Beberapa pembangunan yang mendesak dikerjakan antara lain di bidang hortikultura, peternakan, dan perikanan. Pemerintahan daerah diharapkan jangan hanya bisa membangun gapura saja, tetapi untuk lebih memperhatikan warganya.

Dengan pengerjaan desa secara maksimal diharapkan akan menjamin kedaulatan pangan. Juga dapat menyelamatkan uang negara sebesar Rp 600 triliun sekaligus menghindarkan Indonesia dari negara pengimpor. Bila jagung, beras dan pertanian lain tidak impor, maka kita dapat devisa dan uangnya dipakai untuk membangun infrastruktur.

Petani kita juga membutuhkan tempat baru. Lahan yang ada sekarang sudah menyempit. Salah satu akar masalahnya juga tumbuhnya industri. Masalah kesejahteraan petani juga perlu ditingkatkan.

Presiden baru yang belum dilantik sudah memanjikan suntikan dana Rp 1,4 miliar untuk setiap desa. Uang itu rencananya untuk menciptkan 1 juta petani baru dan 4 juta hektare lahan baru. Kucuran dana itu diharapkan membantu mempercepat pembangunan desa.

Saya sangat setuju dengan langlah presiden baru tersebut. Hanya masalah teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Saya justru khawatir, ketika dana itu dicairkan, banyak perangkat desa yang menggunting anggaran sebelum sampai ke tujuan.

Untuk mendorong percepatan pembangunan, tiap kepala daerah di desa diharapkan untuk merekrut para ahli di bidangnya, seperti konsultan, dokter hewan, insinyur pertanian.

Kita menginginkan adanya pemimpin desa cekatan dan mau menerima perubahan. Bukan malah sebaliknya. Seperti di Kabupaten Probolinggo, ada sekelompok anak muda yang berupaya mengubah tanah tandus menjadi tanah produktif dengan membuang tanah padas, lalu bawahnya dibuat pertanian. Sayangnya, kegiatan mereka tidak dibantu oleh pemerintah desanya. Para pemimpim desa malah tutup mata.

Tantangan hidup sangat realistis dan inovatif. Masyarakat diharapkan untuk tetap lebih menciptakan kerja sendiri demi masa depan yang lebih baik. Bila hanya bergantung pada negara, maka akan kesulitan untuk menciptakan pemerataan pembangunan. (“/wh)

*Chairperson Enciety Business Consult dan Dosen Statistik ITS Surabaya