Membangun Brand Dengan Social Media

Membangun Brand Dengan Social Media

 

Brand ibarat reputasi yang dibentuk oleh pengembannya. Reputasi yang kuat harus dibentuk dengan insight yang kuat pula. Social media di masa kini, menjadi senjata yang ampuh untuk menancapkan insight tersebut di benak konsumennya. Hal ini harus disadari oleh kalangan pebisnis maupun masyarakat awam.

Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya memaparkannya dalam talkshow Kupas Bisnis di Spazio, Rabu (2/4/2014) malam. Talkshow yang bertema “Optimizing, sosial media for excutif branding” tersebut merupakan agenda rutin Spazio bekerjasama dengan Radio Suara Surabaya.

Kresnayana mengatakan, sosial media memiliki kontribusi besar dalam membangun brand marketing. “Kekuatan sosial media adalah komunikasi banyak arah. Social media is a conversation based online,” ujarnya.

Menurutnya, mengembangkan suatu bisnis saat ini bukan lagi tentang bagaimana saya bicara. “Tapi bagaimana saya bisa mengundang percakapan dan sosial media adalah alat yang ampuh untuk itu,” tegasnya.

Namun Kresna menyoroti fenomena etika di media sosial. Kini orang seakan kurang berhati-hati akan dampak yang ditimbulkan saat berbicara di dunia maya. “Kita perlu berhati-hati dengan omongan orang yang kurang mendidik dan menjatuhkan,” imbuhnya. “Susah mengatur omongan orang yang ‘cangkeme urakan’ di sosmed, untuk itu kita yang harus lebih waspada,” ungkapnya yang membuat peserta seminar tertawa.

Dua narasumber berikutnya ialah Errol Jonathans, praktisi komunikasi sekaligus Dirut Suara Surabaya Media dan Edy Zaqeus writing coach social media optimizer.

Sementara Edy Zaqeus berbicara banyak tentang Personal Branding. Dia berbagi pengalamannya selama membantu kandidat kepala daerah hingga akhirnya menang dalam pemilihan dengan memanfaatkan sosial media.

Dirut Suara Surabaya, Errol Jonathans banyak membahas tentang konvergensi media dan kekuatan media sosial sebagai the new media. Ia mengungkapkan, membangun sebuah brand tidak hanya membutuhkan media yang canggih seperti sosial media. Tetapi juga perlu membuat cinta hingga konsumen memiliki loyalitas. “Seperti kata Kevin Robert dalam bukunya, Branding Lovemark,” tegasnya.

Errol mengakhiri penjelasannya dengan mengutip kata Guy Kawasaki yang diakuinya sebagai salah satu idolanya. “Berpikirlah secara digital dan bertindaklah secara analog,” pungkasnya.(wh)