Membangun Bisnis Tanpa Modal

*Suwandono  (mr.swand@yahoo.co.id)

Jika bicara parameter keberhasilan hidup, tentu variabelnya amat beragam. Namun, dalam komunitas Tionghoa variabel materi/kekayaan lebih banyak digunakan untuk menakar keberhasilan hidup. Penggunaan parameter ini melahirkan doktrin pembuktian amat kuat dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. Mereka berlomba untuk membuktikan diri sebagai orang yang berhasil/kaya.

Upaya pembuktian itu amat mempengaruhi pilihan profesi yang akan ditekuni, jika mayoritas orang Tionghoa memilih profesi wirausaha tentu ada hubungannya dengan hal tersebut.

Pemahaman bahwa profesi pengusaha memberi peluang terbesar untuk kaya memang tak bisa dibantah. Data statistik pun mengamini hal itu, dari 100 orang kaya, 74 persen berprofesi pengusaha, 10 persen profesional, 10 persen karyawan (CEO), 6 persen lain-lain.

Perbedaan prosentase yang mencolok itu memberi pesan bahwa jika ingin kaya maka pilihlah profesi wirausaha karena peluang keberhasilannya paling besar. Bagaimana dengan pendapat bahwa rezeki itu datangnya dari Tuhan? Saya setuju dengan pendapat itu, namun seyogianya kita menyiapkan wadah yang besar untuk menampung curahan rezeki dari Tuhan. Dibanding profesi lain, profesi pengusahalah yang bisa menjelma menjadi wadah amat besar.

Saya yakin semua orang paham dengan pemahaman itu. Saya yakin pula semua orang ingin hidup kaya. Namun, mengapa tidak banyak yang memilih profesi pengusaha?

Jika pertanyaan macam itu dilepas ke 10 orang, 8 diantaranya akan memberi jawaban: “Tidak memiliki modal”. Alasan macam itu sebenarnya tidak berdasar, karena jika mengacu pada argumen itu berarti hanya anak-anak orang kaya saja yang bisa jadi pengusaha. Namun, fakta berkata lain. Banyak pengusaha hebat bukan keturunan orang kaya, mereka bisa membangun bisnis tanpa modal capital. Sepengetahuan saya, ada 3 cara yang lazim dipakai komunitas Tionghoa untuk membangun bisnis tanpa modal capital yang besar.

Pertama, menjadi perantara. Ini adalah langkah paling mudah, meskipun banyak pendapat miring untuk profesi ini karena dianggap profesi yang incomenya tidak rutin dan sangat tergantung pada nasib.

Saya sangat tidak setuju dengan pandangan macam itu, karena jika profesi ini dikelola dengan cerdas, professional, dan selalu berhasil menanamkan kepercayaan, maka akan menghasilkan income rutin sangat besar. Sebut saja agen property Ray White, Century 21, ERA Group yang sejatinya merupakan perusahaan makelar. Omzet mereka dalam bilangan triliun. Lantas muncul pertanyaan, mengapa banyak makelar mobil yang luntang-lantung dan tiap hari hanya bergerombol dengan sesama makelar tanpa punya rencana kerja yang jelas? Karena mereka golongan makelar yang kurang cerdas, tidak professional dan tidak berhasil menanam kepercayaan pada banyak orang, sehingga mereka lebih banyak mengandalkan nasib dari pada upaya-upaya cerdas yang di-manage dengan baik.

Kedua, melakukan kerja sama (kongsi) dengan pihak lain. Kita bisa membangun bisnis dengan cara menyediakan waktu, tenaga dan keahlian yang dimiliki. Urusan modal uang dapat dipenuhi oleh pihak lain (partner).

Saya sendiri menerapkan jurus ini di usia 24 tahun. Intinya adalah menjual konsep bisnis yang aman dan menguntungkan. Jika mampu meyakinkan pihak pemilik uang bahwa konsep bisnis yang ditawarkan benar-benar menguntungkan, aman dan memiliki jaminan pengembalian modal cepat, maka tujuan membangun bisnis tanpa modal dapat berjalan dengan baik.

Ruang pergaulan menjadi poin penting dalam konsep ini. Seseorang yang ingin menawarkan konsep bisnis tentu harus dikenal oleh si pemilik uang. Tanpa itu, kemungkinan keberhasilannya amat kecil, bahkan bisa muncul efek negatif.

Oleh karenanya, bergaul dengan orang-orang kaya merupakan langkah strategis, agar kita bisa dikenal dan memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, yang pada akhirnya bisa menumbuhkan kepercayaan. Jika ruang pergaulan hanya terbatas pada orang-orang yang tingkat kesejahteraannya masih di bawah kita, yang akan sering kita dengar hanyalah keluhan dan permintaan bantuan.

Saya tidak bermaksud mengajak Anda menjauhi orang miskin, namun saya mengajak Anda untuk memperluas ruang pergaulan dengan orang-orang sukses dan kaya.

Ketiga, berkarier dulu di suatu perusahaan sebagai batu loncatan untuk membangun bisnis. Dalam konteks ini, bekerja dengan kesadaran penuh untuk menabung ilmu dan membangun jaringan/koneksi. Bukan bekerja untuk mencari uang semata.

Jika tabungan ilmunya telah cukup dan memiliki jaringan luas, maka mimpi membangun bisnis sendiri menjadi amat mudah direalisasikan. Langkah ini harus dilandasi kesadaran bahwa semua pegawai nantinya pasti menjadi wirausahawan, tak peduli sebelumnya sebagai pejabat tinggi, PNS atau lainnya.

Kapan hal itu terjadi? Saat pensiun, mengundurkan diri atau dipecat. Jika telah paham bahwa menjadi wirausaha adalah suatu kepastian, mengapa harus menunggu tua dan sakit-sakitan baru terpaksa menjadi wirausahawan? Tentu jauh lebih baik jika memulainya sejak usia muda dengan tenaga dan pikiran masih full power. Kuncinya terletak pada nyali. Banyak orang tak memiliki keberanian untuk mengambil langkah itu karena selalu dihantui ketakutan. Mereka lupa jika telah mengecilkan kemungkinan untuk hidup kaya.(wh)

*Suwandono, pengusaha properti dan penulis novel.