Membandingkan RoboCop 1987-2014

Membandingkan RoboCop 1987-2014

Zaman semakin canggih. Tahun 2028 Amerika sudah tak lagi mengandalkan prajurit untuk menumpas kejahatan. Dalam perang sekalipun, yang diturunkan adalah robot-robot pintar.

Mereka bisa mengenali potensi bahaya, menarik pelatuk hanya untuk sasaran tepat. Asal tak bersenjata, manusia akan aman. Omnicorp, perusahaan pembuat robot, sudah memprogramnya.

Bahkan mereka bisa mengucap: “Assalamualaikum, kiranya damai bersama Anda. Mohon keluar dengan tangan terangkat untuk prosedur pemindaian rutin,” untuk para muslim di Teheran.

Sekilas, itu solusi paling aman untuk seluruh umat manusia di dunia. Namun, senat AS menolak robot. Alasannya, mereka tak punya belas kasih dan hati nurani. Melihat bocah yang sekadar memegang pisau, mereka bisa mendeteksinya sebagai ancaman bahaya.

Detroit masih butuh sisi humanisme. Yang punya perasaan, emosi, dan pikiran untuk mengontrol dirinya sendiri.

Karena itulah Raymond Sellars (Michael Keaton), pemilik Omnicorp, tak bisa mengalahkan Senator Hubert Dreyfuss (Zach Grenier) untuk mencabut undang-undangnya soal perobotan.

Alhasil, Detroit masih menghadapi permasalahan yang sama: kriminalitas yang tak pernah surut. Polisi korup. Narkoba dan senjata ilegal merajalela. Opsir Alex Murphy (Joel Kinnaman), hidup di era itu.

Murphy polisi anti-suap, namun justru itulah yang membuatnya celaka. Karena kegetolannya menangkap otak perdagangan narkotik, Antoine Vallon (Patrick Garrow), Murphy terluka.

Hidupnya kritis, nyawanya nyaris tak selamat. Dari seluruh tubuh, yang tersisa tinggal wajah, sebagian otak, paru-paru, jantung, dan telapak tangan kanannya saja.

Omnicorp melihat itu sebagai kesempatan. Atas persetujuan sang istri, Murphy diberi “kehidupan kedua”. Di bawah Dr Dennett Norton (Gary Oldman), Murphy dimasukkan dalam tubuh robot. Jadilah ia RoboCop.

Sayang, Omnicorp tak puas sampai di situ. Mereka melihat RoboCop lebih lemah dibanding robot lainnya, karena masih punya rasa takut dan emosi, juga perasaan. Robot yang seperti itu tak laku dijual.

Semakin lama, keberadaan Murphy dalam RoboCop makin ditekan. Hingga ia berada di titik nol kesadarannya. Robot mengambil alih jiwanya. Gerakannya memang lebih cepat dan taktis.

Penjahat demi penjahat ditangkap. Angka kriminalitas menurun drastis. Ia dielu-elukan media. Namun, Murphy jadi tak mengenali sahabatnya, tak memedulikan istrinya, bahkan putranya sendiri.

Pergulatan yang selanjutnya terjadi bukan lagi antara Murphy dan Vallon, melainkan dengan dirinya sendiri. Juga dengan Omnicorp, perusahaan yang membuatnya kehilangan sisi manusia.

Siapa yang akhirnya bisa memegang kendali, manusia atau robot?

RoboCop merupakan remake dari film sebelumnya. Film garapan sutradara José Padilha ini masih mengadopsi cerita soal Alex Murphy dan keluarganya, sama seperti RoboCop tahun 1987.

Namun, sebaiknya tidak membandingkan dua generasi film yang berbeda. Katakanlah RoboCop pada 1987 unggul dari segi cerita dan pergolakan emosi. Kini, RoboCop laik diacungi jempol karena kecanggihan teknologi dan kemasannya lebih segar.

Jumat lalu, film ini sudah hadir di Indonesia. Dalam waktu dekat, RoboCop akan hadir secara massal di layar lebar negeri ini. (viv/bh)