Membaca Peluang Bisnis Food Truck

Membaca Peluang Bisnis Food Truck

Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya dan Owner Food Truck Loco Mama, Griselda Valentina saat mengisi Kupas Bisnis di Spazio Surabaya, Kamis (12/3/2015) malam.

Tidak hanya geliat bisnis batu mulia yang mengalami pertumbuhan siginifikan di Indonesia, bisnis food truck juga mengalami hal yang sama. Bahkan jumlahnya makin beragam.

“Tren ini yang akan kita ambil. Ada peluang besar jika ini dikembangkan di Indonesia. Mengingat masyarakat kita kalangan menengah ke atas, meski rumahnya bagus, dapurnya bagus tapi tidak pernah memasak,” beber Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana kemudian memberi paparan di Spazio Surabaya, Kamis (12/3/2015) malam.

Dijelaskan Kresnayana, bisnis berkonsep food truck ini sebenarnya telah lebih populer di luar negeri. Seperti halnya di Amerika Serikat yang sudah ada sejak abad ke-17 yang lalu. Target pasarnya para pekerja di sejumlah pabrik yang butuh makanan siap saji dengan cepat dan dekat.

Dengan konsep makanan food truck, kata Kresnayana, sama dengan mengajak masyarakat memilih makanan lebih sehat. Ini karena sejumlah konsep warteg belum memiliki jaminan kebersihan. Selain bersih masyarakat juga butuh makanan cepat saji.

Sementara itu, Griselda Valentina, owner Loco Mama yang juga menjalankan bisnis food truck, menjelaskan bahwa pihaknya baru setahun terakhir menggeluti bisnisnya itu di Jakarta. Menjual makanan bergaya Meksiko ia saat ini sukses dengan desain truck tua yang dimilikinya.

“Kami satu-satunya menggunakan truck klasik tahun 1941. Menu kita sesuai pilihan costumer. Yang membedakan food truck dengan mobil toko lainnya itu harus ada aksi memasak di dalamnya dan sifatnya mobile,” bebernya.

Diakuinya, konsep Meksiko diambil karena ketertarikannya dengan culture Amerika Serikat. Perempuan yang pernah kuliah di Los Angeles ini, mengaku setiap hari saat masih mahasiswa sering makan di food truck. Kebiasaannya ini kemudian ia bawa ke Indonesia dengan membuat bisnis food truck bergaya klasik.

“Potensi marketnya itu memang hanya orang-orang tertentu saja, tapi masih berkembang di seluruh dunia. Di indonesia itu diangkat dari tren. Ini mencoba dari culture baru bukan seperti di Amerika yang butuh cepat saji,” jelasnya.

Saat ini, di Jakarta telah ada 20 pengusaha yang menjalani bisnis ini. Padahal pada 2013 lalu, bisnis ini baru diminati tiga pengusaha saja. Lalu pada 2014, melonjak menjadi 15, dan saat ini diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan tren positif pasar terhadap bisnis food truck saat ini.

Di satu sisi, Owner Delimajaya Carrosseria, Winston Wiyanta, membeberkan untuk berbisnis food truck tidak membutuhkan biaya relatif mahal. Food truck juga sifatnya bisa mobile dan menyasar semua pasar, khususnya menengah ke atas yang butuh cepat saji.

“Untuk pembuatan food truck paling murah itu Rp 250 juta. Ada juga beberapa jenis truck yang sedang hingga besar dengan harga Rp 400 juta sampai Rp 700 juta. Tapi tergantung apakah ada konsep tambahan seperti tambahan televisi atau properti tambahan lainnya,” jelas dia. (wh)