Memaknai Sharing Economy

Memaknai Sharing Economy

Kresnayana Yahya, Enciety Business Consult, foto: arya wiraraja/enciety.co

Tahun 2016 mendatang, perekonomian Indonesia akan memasuki era baru. Perekonomian Indonesia ke depan akan berbicara terkait pola hubungan perekonomian yang dikenal sebagai “Sharing Economy”.

Pola ini sebenarnya telah dipraktikkan sebagian besar pelaku ekonomi di dunia. pelaku usaha di dunia tidak lagi terpaku pada keberadaan perusahaan atau unit usaha yang berbadan hukum. Sementara di Indonesia hal itu masih sulit direalisasikan lantaran ada ketentuan kepemilikan payung hukum untuk setiap unit usaha.

Sharing Economy telah banyak dilakukan di sebagian besar jenis usaha di dunia. Usaha tersebut tidak hanya sebatas pengadaan barang, tapi telah merambah pada usaha pengadaan jasa.

Pada dasarnya, dalam pelaksanaan Sharing Economy, butuh rasa saling percaya. Dimana para pelaku usaha membutuhkan penguat kepercayaan dan modal untuk membangun sebuah usaha. Ini karena inti dari perusahaan adalah mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar.

Pola Sharing Economy yang sedang marak dipraktikkan di dunia saat ini menggunakan person to person atau hubungan personal dalam merajut kerjasama bisnis.

Jika perubahan pola ekonomi yang menjadi semakin instan ini pada prinsipnya dapat memudahkan dalam melakoni usaha. Dengan pola ini, peluang usaha akan semakin luas. Namun, perlu dicermati juga bagi para pelaku usaha harus dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM)-nya. Ini karena pola ini menuntut etos kerja yang tinggi.

Karenanya, audah saatnya Pemerintah dapat menyikapi perubahan yang terjadi sekarang. Pemerintah tidak boleh terjebak pada kebekuan regulasi. Yang mewajibkan unit usaha harus berbadan hukum. Ini sangat menghambat perkembangan dunia usaha yang saat ini mulai digalakkan. Seperti para pelaku usaha kecil dan usaha start up yang kini mulai berkembang. (wh)