Memaknai Blended Learning

Memaknai Blended Learning

Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Beberapa hari terakhir ini, Kota Surabaya terlihat sangat marak dan meriah. Berbagai event digelar hampir di semua penjuru kota. Ada Festival Kalimas, Festival Mangrove, Festival Kuliner Tunjungan, dan masih banayak lagi.

Kemeriahan ini tak lepasdari adanya acara berskala internasional, yakni The Third Session Preparatory Committe for UN Habitat III (PrepCom 3) pada 25-27 Juli 2016 lalu.

Keadaan tersebut merupakan ilustrasi bagi para masyarakat, jika Surabaya merupakan bagian dari jagad global. Hal ini secara tidak langsung dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat betapa pentingnya pendidikan berbahasa asing.

Bagaimanapun juga, proses belajar bukan hanya didapat ketika kita duduk di bangku sekolah. Saat ini, kita telah mengenal istilah blended learning. Sesuai dengan namanya merupakan suatu metode pembelajaran yang mengkombinasikan metode pembelajaran tatap muka dengan online learning.

Setiap kali kita mendapatkan sebuah informasi, maka secara tidak sadar kita telah mendapatkan sebuah pembelajaran atau ilmu baru. Jadi, ketika membaca informasi di media sosial seperti, facebook, twitter dan lain sebagainya, hal itu merupakan sebuah proses belajar.

Dalam media social dan media online, banyak informasi-informasi yang dapat berguna bagi diri kita. Namun, kenyataannya masih banyak orang yang melewatkan hal baik tersebut.

Seharusnya, kita harus lebih jeli dan mampu memanfaatkan perkembangan serta keterbukaan arus informasi tersebut untuk dapat mengembangkan kapasitas sumber daya manusia yang kita miliki.