Memahami Risk Management dalam Mengantisipasi Kebakaran

Memahami Risk Management dalam Mengantisipasi Kebakaran

Soekarno (Kepala Seksi Pencegahan dan Penanganan Dinas Kebakaran Pemerintah Kota Surabaya), Kepala Dinas Kebakaran Pemerintah Kota Surabaya Chandra Ratna Maria DE Rosario Oratmangun, dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (21/7/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

Pergantian musim kini tak bisa diprediksi untuk mengantisipasi peningkatan kebakaran. Di mana sebelumnya masyarakat harus mempersiapkan diri untuk menanggulangi kejadian-kejadian kebakaran saat musim kemarau yang jatuh pada bulan Juni-Juli.

“Sekarang, hal itu tidak dapat dilakukan lagi. Mengingat saat ini kita tengah menghadapi berbagai fenomena anomali yang dapat mempengaruhi perubahan iklim,” kata Chairpersen Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dia dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (21/7/2017).

Menurut dia, mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dari fenomena anomali tersebut, masyarakat harus belajar risk management. Di mana, kita dihadapkan pada situasi yang penuh ketidakpastian yang dapat menimbulkan akibat yang merugika.

“Ada langkah antisipatif yang bisa dilakukan. Seperti di banyak perumahan, perkantoran, pergudangan dan tempat-tempat industri yang menggunakan peralatan otomatis yang dilengkapi sensor-sensor canggih. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kejadian buruk, seperti kebakaran,” jelas dia.

Memang, imbuh Kresnayana, langkah tersebut tidak cukup memadai. Karena dalam konsep risk management, kita dituntut untuk dapat mengantisipasi malfungsi dari peralatan otomatis tersebut.

“Nah, di sinilah peran Dinas Kebakaran Pemkot Surabaya sangatlah vital,” tegas dia.

Ia menambahkan, di Surabaya selain perumahan, perkantoran dan tempat-tempat industri, ada satu hal yang wajib diwaspadai. Yakni, kebakaran yang terjadi di lahan-lahan kosong.

“Kebakaran yang terjadi di lahan-lahan kosong ini dari tahun ke tahun angkanya terus bertambah. Kurang lebih selama beberapa tahun terakhir angkanya naik mencapai 50 persen. Ini berarti kebakaran di lahan-lahan kosong ini jadi lebih banyak ketimbang kebakaran yang melanda bangunan,” terang pakar statistik ITS itu. (wh)