Memahami Potensi Anak dengan Metode Interaksi

Memahami Potensi Anak dengan Metode Interaksi

Metode pendidikan yang tepat untuk anak dinilai sebagai salah satu cikal untuk membentuk karakter kepribadian anak. Namun apakah pendidikan orang tua selama ini sudah benar dan tepat untuk masing-masing anak?

Kenyataannya saat ini masih banyak orang tua yang berpikir bahwa pendidikan menggunakan metode instruktif dinilai lebih tepat untuk membangun karakter anak. Padahal metode tersebut harus digantikan dengan pola interaktif lantaran dinilai akan menghambat anak.

Anak-anak yang harus kita ajak memahami persoalan budaya, sosial, dan struktur sosial masyarakat. Persoalannya kalau menggunakan metode yang seragam atau instruktif dinilai akan membebani anak.

Justru sebaliknya, cara mengajari anak yang tepat adalah dengan belajar banyak dari berbagai karakter anak-anak. Ini karena setiap anak memiliki karakter dan pribadi yang berbeda-beda dan tidak bisa diajari dengan satu metode yang seragam saja.

Ternyata orang tua yang harus banyak belajar komunikasi dengan anak-anak. karena anak yang satu dengan yang lain memiliki karakter yang berbeda dan keinginan yang berbeda pula. Karena itu, saya menganjurkan mari keluarga punya kurikulum keluarga.

Ini diupayakan untuk mengetahui keunggulan anak di bidang tertentu atau pun anak memiliki kelemahan di bidang tertentu. Jadi bisa mengetahui kecocokan anak di bidang mana. Termasuk melihat apakah anak tersebut mengedepankan cara berpikir otak kanan atau kiri. Inilah yang harus dikembangkan oleh orang tua.

Kurikulum keluarga ini jangan diseragamkan, kita harus melihat masing-masing anak. Kita harus membuat pola interaktif menggantikan pola instruktif. Kita harus memperbanyak pola interaktif sejak kecil. sehingga anak tahu apa yang dianggap berwibawa dan bermanfaat dengan pola pikirnya sendiri.

Sala satu contohnya adalah membangun wibawa dengan memberanikan anak untuk tidak segan meminta maaf dan ini harus dicontohkan oleh orang tua. Dulu, kewibawaan itu dibangun oleh instruksi, sekarang kewibawaan harus dibangun lewat interaction.

Seperti yang terjadi di Amerika Serikat, untuk masuk di program pasca sarjana atau S1 pun mahasiswa diminta untuk mempunyai sertifikat keterampilan sosial. Ini juga sangat membantu untuk memberikan percaya diri dan kesiapan anak mengadapi sosial masyarakat.

Kebetulan di tempat saya ada anak-anak Amerika yang belajar 6 bulan untuk terlibat dengan social interpersonalship. Pada Oktober mendatang, juga akan datang lagi dua siswa asal Amerika yang akan belajar di Enciety Business Consult. Misalnya belajar dari volunteer melakukan kerja data analisis data di tempat saya.

Ini sangat membantu anak untuk belajar tentang logika, bahasa, musik, dan seni. Selain itu juga ada inter personal skill, intra personal, naturalis, dan terakhir dia harus punya keterampilan. Delapan intelegensi ini harus dimiliki anak-anak, di lain sisi juga diperlukan adalah ketuhanan.

Untuk yang keempat terakhir ini belum dikembangkan di Indonesia. Misalnya komunikasi itu tidak menjadi acuan untuk belajar. Padahal kemampuan merefleksi diri sendiri membuat dia bisa mengintegrasikan kebutuhan dengan keterampilan sosialnya. (wh)