Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Jatim Kuartal Pertama

Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Jatim Kuartal Pertama

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat pertumbuhan ekonomi Jatim pada kuartal pertama tahun ini mencapai 6,40 persen atau melambat bila dibanding periode yang sama tahun lalu. Sejumlah sektor yang mengalami pelambatan di antaranya, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, dan jasa.

“Untuk sektor keuangan disebabkan belum mulainya masuk sekolah, gaji ke-13, dan Lebaran. Untuk sektor keuangan ini yang kita ambil adalah pegadaian, koperasi dan lembaga keuangan nonbank,” ujar Kepala Bidang Neraca dan Analisa Statistik BPS Jatim Setyowati, Senin (5/5/2014).

Setyowati menyebutkan Sepanjang kuartal pertama tahun ini hampir semua sektor mengalami pertumbuhan melambat. Kecuali sektor pertanian tumbuh sebesar 51,49 dengan kontribusi 5,29 persen. Untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh negatif sebesar 7,62 persen.

Sementara sektor pertambangan dan penggalian turun sebesar 11,35 persen, angkutan dan komunikasi turun 5,55 persen, industri pengolahan turun 3,16 persen, sektor jasa-jasa turun 6,6 persen, listrik, gas dan air bersih turun 0,84 persen dan sektor konstruksi turun sebesar 7,62 persen.

Jika dibandingkan dengan triwulan sama tahun sebelumnya, perlambatan terjadi pada sektor tersier. Perdagangan, hotel dan restoran melambat dari 9,38 persen pada triwulan I/2013 menjadi 6,79 persen pada tahun ini.

Sektor pengangkutan dan komunikasi melambat dari 10,98 persen menjadi 9,5 persen. Sementara sektor keuangan juga melambat dari 8,49 persen menjadi 7,69 persen. Sedangkan sektor jasa tumbuh sebesar 8,45 persen, lebih cepat dibanding tahun lalu yang mencapai 5,68 persen. Sementara pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor konstruksi yang mencapai 9,54 persen.

Walaupun tumbuh melambat, namun secara nominal pencapaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim semakin meningkat. Total nilai PDRB Jatim pada triwulan I/2014 atas dasar harga berlaku mencapai Rp305,23 triliun, naik 14,28 persen dibanding tahun lalu pada periode yang sama sebesar Rp 267,08 triliun.

Kontribusi terbesar masih disumbang oleh tiga sektor, perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor pertanian. Untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran mencapai Rp 93,623 miliar atau berkontribusi 30,67 persen, disusul industri pengolahan Rp 79,129 miliar dengan kontribusi 25,96 persen, sektor pertanian sebesar Rp 53,167 miliar berkontribusi 17,84 persen. (wh)