Melakukan Riset sambil Menyelam

Melakukan Riset sambil Menyelam

Ketertarikannya akan dunia laut, menggugah dosen muda ini bergelut di bidang marine natural product. Beberapa bahan dari laut sukses disulap menjadi berbagai jenis obat.

Berkat riset tersebut, Dr Masteria Yunovilsa Putra (29) berhasil masuk menjadi finalis dalam International Conference on Medicinal Chemistry and Timmerman Award (ICMCTA) 2013.

Ia bercerita, dunia marine natural product sudah digelutinya sejak masih menempuh jenjang sarjana di Universitas Andalas, lebih dari enam tahun. Mulanya, ia mendapat tawaran untuk melakukan penelitian di daerah Mentawai, Bali, dan Lombok. Riset ini yang turut bekerjasama dengan salah satu perusahaan farmasi terbesar di Italia itu dijalaninya dengan serius.

Sejak saat itu, Masteria tertarik untuk memperdalam marine natural product. Segera setelah ia menyelesaikan S1-nya, ia langsung bertolak ke Itali untuk meneruskan pendidikannya. Pria asli Padang ini lantas meneliti spons yang hidup di laut sebagai bahan thesisnya. Riset tersebut mengantarkan Masteria menemukan zat anti malaria.

Masteria mengaku, spons bahan penelitian tersebut diambil dari perairan Indonesia yaitu di laut Bunaken. Sebab, sejak awal Masteria memang ingin mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada di Indonesia. ”Jenis biota laut setiap tempat memang berbeda. Kalau biota di Eropa sudah banyak yang meneliti sehingga saya pilih di Indonesia,” ungkap dia seperti ditulis dalam situs www.its.ac.id.

Hal yang sama juga ia lakukan ketika menempuh pendidikan doktor nya. Ia memutuskan untuk meneliti koral yang berada di Bunaken. Kala itu, ia berusaha meneliti beberapa senyawa aktif pada koral untuk mendapatkan senyawa glikolipid dengan gugus asitilen. ”Biasanya glikolipid di alam itu gugusnya OH. Tapi saya berhasil menemukan gugus asetilen pada glikolipid,” paparnya.

Masteria menjelaskan bahwa senyawa tersebut dapat digunakan sebagai obat anti inflamatori. Obat tersebut dapat digunakan untuk menekan rasa sakit atau nyeri pada beberapa jenis penyakit.

Riset yang ia lakukan tak berhenti begitu saja. Bahkan, Masteria semakin aktif setelah resmi menjadi dosen ITS sejak Februari 2013 tersebut. Menurutnya, senyawa yang ia buat baru dalam lingkup laboratorium sehingga belum bisa benar-benar diproduksi. ”Masih banyak tahap yang harus dilewati hingga akhirnya dapat diproduksi massal,” imbuh penggemar sepak bola ini.

Dalam pengembangan risetnya, Masteria berkeinginan untuk menggandeng Tokyo University agar dapat melanjutkan riset di Jepang. ”Banyak hal yang harus dipelajari soal soft coral,” katanya.

Setidaknya terdapat lima jurnal internasional yang berhasilkan diterbitkan lewat penelitian ini. ”Beberapa jurnal lagi akan menyusul,” tambahnya. Jurnal tersebut mengantarkan Masteria untuk menjadi editor di beberapa website publikasi jurnal. Kini, ia menjadi editor in chief di Journal of Coastal Life Medicine dan editorial board member di Asian Pacific Journal of Tropical blome.

Beberapa kendala pun sempat ia hadapi dalam melakukan riset tersebut, terutama dalam hal pendanaan. Menurutnya untuk menyelam dan pergi ke laut yang dituju pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit. ”Indonesia sebenarnya memiliki laut yang luar biasa baik dalam biota lautnya. Namun, biaya yang dikeluarkan jelas tidak sedikit,” kata pria yang juga memiliki hobi berenang ini.

Saat mengetahui adanya kompetisi ICMCTA, Masteria berminat untuk mengikuti. Setelah mengikuti seluruh tahapan seleksi, riset tersebut berhasil mendapatkan juara dua. Awalnya, Masteria mengaku tidak menyangka bisa mendapatkan juara dua. Sebab, banyak peserta lain memiliki usia yang terpaut jauh dari peserta lainnya. ”Usia jauh berarti pengalaman penelitian yang lebih lama,” terangnya dengan sumringah.(wh)