Mei 2019, Nilai Tukar Petani Jatim Naik 1,06 persen

Mei 2019, Nilai Tukar Petani Jatim Naik 1,06 persen

Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di daerah perdesaan adalah indikator Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur bulan Mei 2019 naik 1,06 persen dari 106,52 menjadi 107,66.

“Kenaikan NTP ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib),” ujar Teguh Pramono, Kepala BPS Jatim, Senin (10/6/2019).

Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,15 persen dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,08 persen. Jika dibandingkan dengan bulan Mei 2018, perkembangan NTP Bulan Mei 2019 (year-on-year) mengalami kenaikan sebesar 2,12 persen. Sedangkan NTP bulan Mei 2019 dibandingkan bulan Desember 2018 (tahun kalender Mei) mengalami penurunan sebesar 0,88 persen.

Pada bulan Mei 2019, sambung Teguh, semua sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP. Sub sektor yang mengalami kenaikan NTP terbesar terjadi pada sub sektor Tanaman Pangan sebesar 1,50 persen dari 107,03 menjadi 108,64, diikuti sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,91 persen dari 104,29 menjadi 105,24, sub sektor Peternakan sebesar 0,83 persen dari 110,78 menjadi 111,70, sub sektor Hortikultura sebesar 0,77 persen dari 100,78 menjadi 101,55, dan sub sektor Perikanan sebesar 0,74 persen dari 111,22 menjadi 112,04.

Ada sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani bulan Mei 2019 adalah buah apel, gabah, sapi potong, ikan layang, ikan lemuru, kelapa, biji jambu mete, vanili, ikan kuniran, dan ketela pohon atau ubi kayu.

“Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang diterima petani adalah bawang merah, gurame, cengkeh, tomat, ikan nila, tongkol, buah jeruk, tebu, nilam, dan bandeng,” terangnya.

Dari lima Provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada bulan Mei 2019, tiga Provinsi mengalami Kenaikan NTP, sedangkan dua Provinsi lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP terbesar terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta sebesar 2,01 persen, diikuti Provinsi Jawa tengah sebesar 1,37 persen, dan Provinsi Jawa Timur sebesar 1,06 persen.

“Sedangkan Provinsi yang mengalami penurunan NTP terjadi di Provinsi Jawa Barat sebesar 0,02 persen, dan Provinsi Banten sebesar 0,01 persen,” paparnya.(wh)