Berbagai Media Asing Kembali Soroti KBS

Berbagai Media Asing Kembali Ramai Soroti KBS

Kematian Michael, singa jantan Afrika Kebun Binatang Surabaya (KBS) pada Selasa (7/1/2014), membuat media-media asing kembali menyoroti. Pemberitaan buruk DailyMail dengan menjuluki KBS sebagai Zoo of Death, seolah terbukti. Berbagai media asing berbondong-bondong menulis kematiannya.

Di antaranya ialah media Amerika Serikat, Washington Post dan Fox News, Straits Times asal Singapura, The Independent, One News Page, dan tentu saja DailyMail—yang berbasis di Inggris. DailyMail menulis peristiwa tersebut dengan judul Lion found hanging in its cage becomes the latest victim of wretched Indonesian animal park dubbed the ‘zoo of death’ (Singa ditemukan mati tergantung di kandangnya, menjadi korban terbaru dari taman hewan Indonesia yang mencelakan, berjuluk ‘Kebun Binatang Kematian’). Dalam artikel yang diunggah Rabu (8/1/2014) pukul 15.55 waktu setempat, KBS telah membuat para pembacanya marah sejak pemberitaan perlakuan hewan-hewan di sana beberapa bulan yang lalu.

Laman berita itu memberikan uraian, bahwa tragedi terjadi hanya 24 jam setelah seekor wildebeest mati akibat masalah pencernaan. Meskipun, lanjutnya, “KBS menyalahkan musim hujan sebagai penyebabnya”. Kematian Michael itu bahkan dianggap memicu reaksi nyata yang urgen dilakukan pencinta binatang seluruh dunia, untuk segera menyelamatkan mereka.

Tak lupa DailyMail berpendapat, menutup KBS bukanlah pilihan. Sebab, tak ada satupun kebun binatang yang menunjukkan ketertarikannya menampung satwa-satwa KBS. DailyMail menghitung, setidaknya 43 hewan mati dalam kurun Juli-September 2013.

MailOnline juga menulis, puluhan petisi yang meminta penutupan KBS kini telah bermunculan. “Kematian Michael sudah pasti menimbulkan tuntutan dari pencinta binatang di seluruh dunia agar KBS melakukan perbaikan.” Lalu MailOnline ikut menyoroti kepemimpinan wali kota Surabaya, Tri Rismaharini, menolak pengembangan kawasan konservasi itu. “Mrs Tri Rismaharini has resisted improvements saying they want to retain the original structures erected by Dutch colonialists in 1916.” (Ibu Tri Rismaharini menolak pengembangan karena mereka bilang ingin mempertahankan struktur asli kebun binatang yang didirikan penjajah Belanda pada 1916).