MED-SMAC untuk Sterilisasi Alat Medis Kian Optimal

MED-SMAC untuk Sterilisasi Alat Medis Kian Optimal

foto:humas its

Sterilisasi alat medis yang selama ini dilakukan menggunakan autoclave dinilai masih memiliki banyak kekurangan. Berlatar persoalan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), menawarkan sebuah mesin sterilisasi alat medis yang diberi nama Medical Sterilizer Machine (MED-SMAC).

Adalah Muhammad Cendekia Airlangga, Ahmad Bariq Al Bariq, dan Marcellinus Veryllian Nathan yang menciptakan mesin dengan metode electrohydrodynamic ini.

Muhammad Cendekia Airlangga, ketua tim kerja, menyampaikan, selama ini pencucian alat medis yang dilakukan menggunakan autoclave masih memiliki beberapa kekurangan, seperti memiliki risiko kebakaran yang tinggi karena penggunaan api dalam proses.

Selain itu, kekurangan lain dari autoclave di antaranya adalah masih memerlukan pemantauan manual karena hanya dapat bekerja secara optimal pada suhu tertentu. Selain itu, uap panas yang dihasilkan pun tidak dapat digunakan untuk menstrerilkan alat medis yang terbuat dari plastik, karena plastik bersifat mudah meleleh.

“Ditambah, beberapa mikroorganisme yang menempel pada alat medis tidak mati jika hanya dipengaruhi suhu tinggi,” imbuh mahasiswa yang akrab disapa Angga ini.

Mahasiswa Departemen Teknik Elektro ini menyayangkan, banyak kejadian yang merugikan pasien akibat tidak sterilnya alat medis yang digunakan, dan bahkan beberapa di antaranya menimbulkan korban jiwa. Melihat krusialnya proses penanganan medis seperti operasi terhadap nyawa pasien, tentunya hal-hal teknis seperti peralatan yang digunakan dalam proses operasi harus lebih diperhatikan.

“Artinya, alat medis yang akan digunakan dalam proses operasi harus benar-benar dalam keadaan steril (tidak terdapat mikroorganisme yang menempel, red),” imbuh mahasiswa angkatan 2018 ini.

Maka dari itu, di bawah bimbingan Dr Dimas Fajar Uman Putra ST MT dirancanglah suatu alternatif lain guna sterilisasi peralatan medis berupa alat dengan nama MED-SMAC tersebut. Alat ini memanfaatkan sistem pengali tegangan dan electrohydrodynamic yang dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga mampu membunuh seluruh mikroorganisme yang terdapat pada peralatan medis.

Mahasiswa asal Malang ini juga menjelaskan, electrohydrodynamic merupakan fenomena fisik yang terjadi akibat pembangkitan tegangan tinggi, yang akan menyebabkan medan antara jarum elektroda dan pelat elektroda. Bidang ini yang dimanfaatkan untuk membunuh mikroorganisme dengan menggunakan listrik bertegangan tinggi.

Berdasarkan hasil pengujian, ditemukan bahwa tegangan output tergantung pada jumlah kapasitor yang dipasang. Semakin besar kapasitor, semakin tinggi pula nilai tegangan yang dihasilkan. Melalui proses pengujian selama 30 menit dengan jarak antara 3 centimeter (cm) elektroda dan tegangan 7,3 kiloVolt (kV) mampu mengubah indikator warna dalam kantong sterilisasi yang menunjukkan kondisi steril perangkat medis.

“Hal tersebut menunjukkan bahwa alat ini (MED-SMAC, red) sebetulnya sudah berfungsi seperti yang diharapkan dan mampu menjadi alternatif dalam proses sterilisasi,” tegas Angga.

Meski demikian, Angga mengaku, MED-SMAC yang dibuat ini masih perlu dikembangkan lagi karena saat ini alat tersebut masih berupa prototype.

“Dalam waktu dekat kami akan melakukan standarisasi SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk alat ini (MED-SMAC, red) dan akan kami daftarkan paten untuk sterilisasi dengan menggunakan tegangan di atas 5 kV,” pungkasnya.(wh)