Mayoritas Pengguna Aplikasi IT Masih Sebatas Entertainment

Mayoritas Pengguna IT Masih Sebatas Entertainment
MELEK IT : Herman Sopardjono, Nur Azzam, Aryo Nugroho, dan Ery Cahyadi.

Indonesia memiliki potensi dalam hal pemanfaatan Information Technology (IT) yang besar. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jatim merilis, angka pengguna internet Indonesia hingga November 2013 mencapai 65 juta orang.

“Tahun depan diperkirakan melonjak hingga 80 juta. Ini merupakan peluang yang baik,” tegas Ketua APJI Jatim, Nur Azzam dalam Prospective Dialogue bertajukPemanfaatan IT untuk Memaksimalkan Pelayanan Publik” di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/12/2013).

Menurut dia, mayoritas masyarakat Indonesia sekarang memanfaatkan aplikasi IT  baru sebatas untuk keperluan entertainment. Seperti halnya di social media dan aplikasi chatting. “Itu masih mendominasi penggunaan aplikasi IT di Tanah Air,” ujarnya.

Sementara Aryo Nugroho, dosen Universitas Narotama, menyoroti kekurangpahaman masyarakat terkait aplikasi IT. “Masih banyak yang menggunakan aplikasi buatan luar negeri. Padahal, buatan anak negeri nggak kalah,” ungkap Aryo .

Pria yang juga praktisi di bidang teknologi informasi  itu, menambahkan, aplikasi IT buatannya justru lebih banyak diminati oleh user luar negeri. Sekitar 54 persen pengguna Catfiz berasal dari Timur Tengah.

Lain halnya dengan pendapat Direktur Enciety Business Consult, Herman Soepardjono. Kata dia, aplikasi  IT bisa mengubah paradigma masyarakat tentang pelayanan publik.

“Pemanfaatan tersebut bisa segera diterapkan, sehingga semua proses pelayanan lebih transparan. Namun itu semua bergantung apakah kita mau berubah,” ujarnya.

Herman menyatakan, pemanfaatan teknologi informasi akan terbentur kultur masyarakat yang masih belum melek teknologi. Tak jarang mereka merasa belum tentrem bila tidak memegang kertas dan mendapat stempel saat mengurus perizinan. Bahkan masyarakat terkadang menaruh kecurigaan.

“Masyarakat masih menganggap sistem online memungkinkan adanya kongkalikong. Sosialisasi akan membantu mengikis pandangan ini sedikit demi sedikit,” ujar Herman.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR), Ery Cahyadi, membenarkan pernyataan Herman. Dikatakan, Surabaya merupakan pelopor penggunaan teknologi informasi melalui sistem Single Windows Service. Berbagai macam pelayanan pemkot Surabaya diproses menggunakan sistem online.  Dari sanalah pemkot membuktikan, transparansi bisa terwujud.

“Dulu kami memulai dengan Pengumuman Penerimaan Siswa Baru. Akhirnya sekarang berkembang sampai menjadi Pendaftaran Siswa Baru secara online. Begitu pula dengan proses Lelang,” ungkap Ery.

Inovasi tersebut berbuah hasil. Penghargaan e-Procurement (e-Proc) Award diterima Surabaya pada 20 November 2013 lalu.(wh)